Kominfo Lakukan Ini agar Kebocoran Data Facebook Tak Terjadi di Pilpres 2019

Nur Chandra Laksana, Jurnalis · Kamis 12 April 2018 10:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 12 207 1885532 kominfo-lakukan-ini-agar-kebocoran-data-facebook-tak-terjadi-di-pilpres-2019-EVJ6YMYDdd.jpg Menkominfo Rudiantara (Foto : Nur Chandra/Okezone)

JAKARTA - Kasus penyalahgunaan data pengguna Facebook yang dilakukan pihak Cambridge Analytica menjadi sorotan banyak orang. Pasalnya dengan informasi pengguna Facebook yang diambil alih secara tidak diketahui oleh para pemiliknya, dapat menggiring kecenderungan politik seseorang.

Contohnya saja, pada saat pemilihan Presiden Amerika pada 2016 silam, yang membawa Donald Trump menjadi Presiden Amerika. Padahal, kecenderungan politik pada saat itu berpotensi untuk memenangkan Hillary Clinton.

Ternyata, menurut Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), ada kemungkinan jika hal serupa skandal Cambridge Analytica bisa terjadi di Indonesia. Hal ini mengingat sebentar lagi, Indonesia akan masuk ke tahun politik.

Baca Juga : Menkominfo Rudiantara Ungkap Isi Surat Balasan dari Facebook

“Kan aplikasi Cambridge Analytica sudah tidak ada di Indonesia, sudah di shutdown. Tapi, bisa saja terjadi lagi,” ujar Rudiantara di Kantor Kominfo, Rabu (11/4/2018) malam.

Meski demikian, Rudiantara menegaskan bahwa dia dan tim Kominfo tidak akan diam. Dia menyatakan akan melakukan sesuatu untuk menanggulangi hal tersebut untuk terjadi di Indonesia.

“Tapi sebelum itu bisa terjadi, saya pasti akan ambil tindakan,” tambahnya.

Selain itu, di kesempatan lain Rudiantara mengatakan bahwa kini pihaknya sudah siap untuk melakukan pemblokiran terhadap media sosial, terutama Facebook jika mereka berani mengobrak abrik kedaulatan Indonesia melalui hoax dan ujaran kebencian.

“Saya ingin melindungi Indonesia dan saya tidak ingin penggunaan Facebook di Indonesia menjadi seperti di Myanmar,” kata Rudiantara.

Baca Juga : Tak Ingin Jadi Alat Propaganda Facebook, Menkominfo: Saya Ingin Melindungi Indonesia

“Mark Zuckerberg, CEO Facebook sendiri telah mengakui bahwa medsos tersebut telah digunakan untuk menyebarkan propaganda anti-Rohingnya di Myanmar,” jelasnya.

Sekedar informasi, beberapa hari yang lalu, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan bahwa Facebook memperhatikan perannya sebagai platform untuk menyebarkan pesan yang dapat memicu konflik di negara tersebut oleh pihak-pihak terkait.

Lebih lanjut Mark menjelaskan jika orang-orang ‘berkepentingan’ mencoba menggunakan platformnya untuk menghasut bahaya nyata. Namun Zuck mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendeteksi dan menghentikan pesan-pesan itu. (chn)

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini