Ini yang Harus Anda Lakukan Bila Baterai Sudah Tak Bisa Dipakai

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 23 Juli 2018 17:47 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 23 207 1926214 ini-yang-harus-anda-lakukan-bila-baterai-sudah-tak-bisa-dipakai-TbfZ63q2u9.jpg Ilustrasi (Foto: Ecotechservices)

JAKARTA - Hampir semua perangkat elektronik menggunakan baterai supaya bisa berfungsi. Setelah baterai menjadi usang, banyak dari kita membuangnya ke tempat sampah, padahal itu berbahaya sekali.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan jika baterai sudah tidak bisa dipakai lagi? Faradhiba sedang membuka laci di rumahnya ketika putranya, Rafa Jafar, tiba-tiba bertanya soal banyaknya baterai dan telefon seluler bekas di dalam laci itu.

Perempuan yang akrab disapa Dhiba ini beralasan, dia kebingungan ke mana membuang sampah elektronik itu. "Suatu hari dia ngeliat saya buka laci. Dia tanya, 'kenapa banyak baterai? kenapa banyak handphone bekas?'," tutur Dhiba kepada BBC News Indonesia.

"Aku berharap sebetulnya bisa diperbaiki, tapi karena butuh jadi beli lagi, akhirnya cuma disimpan di laci, itu yang membuat dia bertanya," ungkapnya kemudian.

Momen itulah yang kemudian menginspirasi Rafa Jafar, akrab disapa RJ, untuk melakukan eksperimen yang berfokus pada isu penggunaan berlebihan alat-alat elektronik.

Dan beberapa tahun kemudian, menginisiasi gerakan peduli sampah elektronik.

Lantas, apa yang membuat RJ tertarik untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya sampah baterai? Alasannya, jelas RJ, karena hampir semua alat elektronik yang digunakan sehari-hari menggunakan baterai supaya bisa berfungsi.

 

Mulai dari ponsel, laptop, jam, mainan, bahkan mobil kini juga menggunakan baterai. Namun, di sisi lain, bahaya mengancam para penggunanya.

"Baterai itu juga salah satu limbah elektronik yang paling berbahaya, yang paling beracun, kalau misalnya sudah mati atau sudah rusak," ungkap RJ.

Untuk membuktikan bahayanya, RJ melakukan beberapa eksperimen. Salah satunya, menanam baterai bekas di tanah yang ditumbuhi tanaman.

"Aku nanem didalam tanaman, setelah seminggu dibandingkan dengan tanaman yang enggak ditanam (baterai), dan setelah seminggu jelas perbedaannya," katanya.

"Yang nggak ada baterainya tetap hijau, tetap fresh (segar). Tapi yang ditanam baterai menjadi lebih layu," tambahnya.

Namun nyatanya, tak semua orang paham bahaya sampah baterai dan sampah elektronik.

Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun, yang saya temui, Roni Kusdianto, contohnya. Meski tahu sampah elektronik berbahaya, dia mengaku kebingungan kemana membuang limbah berbahaya itu.

"Sebenarnya tahu, pernah baca juga di box handphone-nya, bisa meledak, tapi karena terbiasa, buang ke sampah aja," ujar Roni.

Sampah baterai sesungguhnya termasuk sebagai sampah B3 (Bahan Berbahaya & Beracun), karena di dalamnya mengandung berbagai logam berat, seperti merkuri, mangan, timbal, kadmium, nikel dan lithium, yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.

Baterai bekas yang dibuang begitu saja akan mencemari tanah, air tanah, sungai, danau dan akhirnya meracuni air yang dipakai untuk minum, mandi dan mencuci.

"Mereka menganggap ini limbah sampah yang biasa saja yang bisa dicampur dengan (sampah) organik dan anorganik. Padahal, baterai kalau kelamaan kita simpan akan berkarat, kemudian dalam situasi tertentu bisa meleleh, atau ada kandungannya terserap ke tanah," jelasnya.

Baca juga: Ini Bocoran Fungsi S Pen Galaxy Note 9 dan Galaxy Tab S4

"Memang tidak berdampak secara langsung, tapi lama-kelamaan akan memberikan kontaminasi terhadap lingkungan".

"Nah kita ingin agar masyarakat itu mengetahui ada treatment tersendiri untuk baterai. Misalnya dimasukin ke plastik tersendiri aja, memang ini harus mengedukasi karena di luar negeri kan orang sudah terbiasa memilah kan, di kita ini belum," jelas Adji.

Baca juga: Belum Diluncurkan, Video Unboxing Samsung Galaxy Note 9 Beredar

Minim Sosialisasi

Sebuah kotak transparan berdiri di sudut halte transjakarta Cawang UKI, Jakarta Selatan. Tinggi kotak itu tidak lebih dari satu meter, isinya terbagi dua, di bawah terdapat kabel-kabel dan di atas, berjejer telepon genggam jenis lama.

Meneruskan gaung gerakan E-Waste Drop Box yang digalakkan RJ beberapa tahun lalu, Dinas Lingkungan Hidup Jakarta kini menyediakan 'tempat sampah' elektronik ini di beberapa titik di Jakarta.

Dora, seorang guru Fisika yang sedang menunggu bus mengungkapkan selama ini tidak menyadari bahwa itu adalah sampah elektronik.

"Terus terang saya nggak pernah merhatiin. baru tadi karena mau nge-charge merhatiin ya. Tapi ternyata, benar juga ya kalau dikasih tempat ini. Baru tahu," aku Dora.

Kepala Seksi Pengelolaan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Rosa Ambarsari menjelaskan saat ini di Jakarta terdapat 'tempat sampah elektronik' di lima titik, empat di antaranya di halte Transjakarta.

"Salah satunya kami tempatkan di posko dinas lingkungan hidup tiap kali car free day," jelas Rosa.

Minimnya sosialisasi ke warga diakui oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Isnawa Adji. Apa saja yang sudah dilakukan pihaknya untuk meningkatkan kesadaran warga?

"Saya juga edukasi kepada kantor-kantor dan lain-lain ayo, mulai kumpulkan limbah baterainya per kantor-kantor, jadi secara kolektif sehingga memudahkan kita untuk pengambilan itu," jelas Adji.

 

Hingga Desember lalu, limbah elektronik terkumpul mencapai 5,32 ton. Limbah elektronik telepon genggam sendiri sudah terkumpul 1.700-an unit. Sementara itu, sejak awal tahun hingga kini, diperkirakan mencapai lebih dari 2 ton.

Adji menuturkan pihaknya bekerja sama dengan dua perusahaan, PT Prasada Pemusnah Limbah Industri (PPLI) dan PT Mukti Mandiri Lestri (MML) untuk mengolah limbah elektronik itu.

PPLI fokus pada pengolahan telepon genggang bekas, sementara MML fokus pada pengolahan sampah elektronik dari non-telepon genggam, seperti aki, kipas angin, pengering rambut, televisi, komputer dan lain-lain.

"Mereka itu betul-betul memilah-milah komponennya, material-materialnya, sekrupnya, kabelnya, casingnya. Kemudian sama mereka di-treatment sesuai dengan aturan lingkungan hidup," tukas Adji.

Namun, Ketua Umum Asosiasi Persampahan Indonesia Sri Bebassari mengingatkan, produsen barang elektronik tak bisa serta merta lepas tangan dalam pengolahan sampah elektronik ini.

"Produsen harus bertanggung jawab terhadap produknya dan kemasannya yang berbahaya," tegas Sri.

Kewajiban ini pun tertuang dalam Undang-Undang No 18 tahun 2008 tentang pengolahan sampah.

Di sisi lain, upaya penanganan limbah elektronik tidak akan berjalan lancar jika tidak dibarengi penghematan penggunaan elektronik. Hal ini pula ditekankan oleh RJ.

"Misalnya handphone, jangan sampai sering di-overcharged, kalau misalnya (sudah) 100% dicabut. Kalau kita sering overcharged, misalnya nge-charge-nya malam sampai pagi, itu kan juga ngurangin kesehatan baterainya, baterainya akan rusak kalau sering digituin," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini