Ini yang Harus Anda Lakukan Bila Baterai Sudah Tak Bisa Dipakai

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 23 Juli 2018 17:47 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 23 207 1926214 ini-yang-harus-anda-lakukan-bila-baterai-sudah-tak-bisa-dipakai-TbfZ63q2u9.jpg Ilustrasi (Foto: Ecotechservices)

Minim Sosialisasi

Sebuah kotak transparan berdiri di sudut halte transjakarta Cawang UKI, Jakarta Selatan. Tinggi kotak itu tidak lebih dari satu meter, isinya terbagi dua, di bawah terdapat kabel-kabel dan di atas, berjejer telepon genggam jenis lama.

Meneruskan gaung gerakan E-Waste Drop Box yang digalakkan RJ beberapa tahun lalu, Dinas Lingkungan Hidup Jakarta kini menyediakan 'tempat sampah' elektronik ini di beberapa titik di Jakarta.

Dora, seorang guru Fisika yang sedang menunggu bus mengungkapkan selama ini tidak menyadari bahwa itu adalah sampah elektronik.

"Terus terang saya nggak pernah merhatiin. baru tadi karena mau nge-charge merhatiin ya. Tapi ternyata, benar juga ya kalau dikasih tempat ini. Baru tahu," aku Dora.

Kepala Seksi Pengelolaan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Rosa Ambarsari menjelaskan saat ini di Jakarta terdapat 'tempat sampah elektronik' di lima titik, empat di antaranya di halte Transjakarta.

"Salah satunya kami tempatkan di posko dinas lingkungan hidup tiap kali car free day," jelas Rosa.

Minimnya sosialisasi ke warga diakui oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Isnawa Adji. Apa saja yang sudah dilakukan pihaknya untuk meningkatkan kesadaran warga?

"Saya juga edukasi kepada kantor-kantor dan lain-lain ayo, mulai kumpulkan limbah baterainya per kantor-kantor, jadi secara kolektif sehingga memudahkan kita untuk pengambilan itu," jelas Adji.

 

Hingga Desember lalu, limbah elektronik terkumpul mencapai 5,32 ton. Limbah elektronik telepon genggam sendiri sudah terkumpul 1.700-an unit. Sementara itu, sejak awal tahun hingga kini, diperkirakan mencapai lebih dari 2 ton.

Adji menuturkan pihaknya bekerja sama dengan dua perusahaan, PT Prasada Pemusnah Limbah Industri (PPLI) dan PT Mukti Mandiri Lestri (MML) untuk mengolah limbah elektronik itu.

PPLI fokus pada pengolahan telepon genggang bekas, sementara MML fokus pada pengolahan sampah elektronik dari non-telepon genggam, seperti aki, kipas angin, pengering rambut, televisi, komputer dan lain-lain.

"Mereka itu betul-betul memilah-milah komponennya, material-materialnya, sekrupnya, kabelnya, casingnya. Kemudian sama mereka di-treatment sesuai dengan aturan lingkungan hidup," tukas Adji.

Namun, Ketua Umum Asosiasi Persampahan Indonesia Sri Bebassari mengingatkan, produsen barang elektronik tak bisa serta merta lepas tangan dalam pengolahan sampah elektronik ini.

"Produsen harus bertanggung jawab terhadap produknya dan kemasannya yang berbahaya," tegas Sri.

Kewajiban ini pun tertuang dalam Undang-Undang No 18 tahun 2008 tentang pengolahan sampah.

Di sisi lain, upaya penanganan limbah elektronik tidak akan berjalan lancar jika tidak dibarengi penghematan penggunaan elektronik. Hal ini pula ditekankan oleh RJ.

"Misalnya handphone, jangan sampai sering di-overcharged, kalau misalnya (sudah) 100% dicabut. Kalau kita sering overcharged, misalnya nge-charge-nya malam sampai pagi, itu kan juga ngurangin kesehatan baterainya, baterainya akan rusak kalau sering digituin," pungkasnya.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini