nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

LAPAN: Gerhana Bulan Total Bukan Penyebab Gelombang Tinggi

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 26 Juli 2018 17:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 26 56 1927782 lapan-gerhana-bulan-total-bukan-penyebab-gelombang-tinggi-fai88EI3Oh.jpg Gerhana Bulan Total (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Gelombang tinggi mengancam beberapa wilayah perairan di Indonesia belakangan ini. Pantauan Okezone, gelombang tinggi terus menghantam wilayah pesisir di sepanjang Pantai Selatan di Yogyakarta dan Jawa Tengah, sejak 25 Juli 2018.

Terjangan ombak besar di wilayah tersebut bahkan mampu menyebabkan kerusakan mulai dari bangunan, kapal nelayan, tambak, dan fasilitas wisata.

Menanggapi hal tersebut, peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Rhorom Priyatikanto menyebutkan jika gaya pasang surut dan naik air laut memang biasanya meningkat menjelang gerhana bulan, kali ini terjadi pada 28 Juli 2018.

Namun, dia menegaskan jika gelombang tinggi yang terjadi belakangan ini, karena faktor lain. "Memang ada kontribusi gaya pasang surut dan naik yang meningkat menjelang bulan purnama atau gerhana besok, Sabtu dini hari. Namun, sebenarnya gaya pasang surut bulan kira-kira hanya 85% dari rata-rata. Maka, saya berpendapat bahwa gelombang tinggi lebih disebabkan oleh faktor lain seperti angin," tutur Rhorom kepada Okezone, Kamis (26/7/2018).

 Gerhana Bulan Total

Baca Juga: Ini 17 Kota di Dunia yang Bisa Menyaksikan Gerhana Bulan

Lebih lanjut, Rhorom menjelaskan jika pasang naik dan surut yang terjadi pada 28 Juli 2018, siklusnya terjadi setiap 12 jam. "Jumat nanti, puncak pasang terjadi sekitar tengah malam. Waktu tepatnya bervariasi, bergantung kondisi lokal," ujarnya.

Terkait prediksi terjadinya gelombang pasang surut dan naik, dia mengatakan jika wilayah pesisir di belahan dunia manapun mengalami pasang surut air laut. Namun, untuk besarnya menurut dia akan berbeda dan bervariasi setiap wilayah.

Sebelumnya diketahui dari laman Tide Forecast, jika pasang surut air laut akan terjadi di beberapa wilayah perairan di Indoensia di antaranya Tanjung Priok, Jakarta, Pelabuhan Ratu, Labuan, Indramayu, Karangampel, Bandar Lampung, Cirebon, Astanajapura, Tegal, Pemalang, Petarukan, Pekalongan, Tanjungpandan, Manggar, Semarang, Srandakan, Batang, Pangkal Pinang, dan Tayu.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini