Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terumbu Karang Perairan Sulawesi Tahan Pemanasan Global

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Rabu 15 Agustus 2018 08:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 14 56 1936513 terumbu-karang-perairan-sulawesi-tahan-pemanasan-global-s5wAZt9kIv.jpg Penelitian terumbu karang di Sulawesi (Foto: The Guardian)

JAKARTA - Sebuah survei ilmiah baru-baru ini menunjukan bahwa beberapa karang perairan dangkal di Sulawesi kurang rentan terhadap pemanasan global. Seperti diketahui, antara tahun 2014-2017, terumbu karang di dunia mengalami pemutihan karang yang terburuk dalam sejarah.

Ini lantaran iklim El Nino siklik yang dikombinasikan dengan pemanasan antropogenik yang menyebabkan peningkatan suhu air yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dilansir dari laman The Guardian, Rabu (15/8/2018), menariknya penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan dari Inggris Dr Emma Kennedy pada Juni, menemukan adanya fakta bahwa karang di Sulawesi ternyata lebih sehat sejauh ini.

"Sebagai ilmuwan terumbu karang, beberapa tahun ini peristiwa pemutihan terumbu karang sangat menyedihkan. Sungguh luar biasa menyenangkan untuk melihat terumbu karang seperti ini," kata dia. 

Dia menambahkan, "Itu berarti kita masih punya waktu untuk menyelamatkan beberapa terumbu karang melalui penargetan aksi konservasi yang berbasis sains".

Menurutnya, ini terjadi karena Indonesia berada di jantung segitiga terumbu karang, yang merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati di Bumi. Bahkan, ada karang di sini yang mengandung lebih banyak spesies daripada seluruh Karibia. Itulah sebabnya mengapa bioregion sangat menarik bagi para ilmuwan yang mencari ketahanan karang.

Dalam penelitian tersebut ilmuwan menggunakan kombinasi teknologi pencitraan 360-derajat dan Artificial Intelligence (AI). Ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengumpulkan dan menganalisis lebih dari 56.000 citra terumbu karang di perairan dangkal.

Selama perjalanan enam minggu, tim menyebarkan skuter bawah air yang dilengkapi dengan kamera 360 derajat yang memungkinkan mereka untuk memotret hingga 1,5 mil karang per menyelam, yang mencakup total 1487 mil persegi secara total.

Karang

Baca Juga: Fakta-Fakta Fenomena Meteor Perseid yang Hujani Bumi

Lebih lanjut, para peneliti kemudian menggunakan perangkat lunak canggih AI untuk menangani proses yang biasanya sangat sulit dalam mengidentifikasi dan mengatalogkan citra karang.

Dengan menggunakan teknologi Deep Learning terbaru, mereka 'mengajarkan' AI bagaimana mendeteksi pola dalam kontur kompleks dan tekstur citra karang dan dengan demikian mengenali berbagai jenis karang dan invertebrata karang lainnya.Setelah AI menunjukkan antara 400 dan 600 gambar, itu mampu memproses gambar secara mandiri.

"Penggunaan AI untuk menganalisis foto karang yang cepat, telah meningkatkan efisiensi dari apa yang kami lakukan. Jika ilmuwan terumbu karang membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit sekarang hanya beberapa detik saja," tutur Dr. Kennedy.

Penelitian terumbu karang di Sulawesi adalah bagian dari 50 Reefs Initiative, yang merupakan salah satu proyek utama yang berfokus pada pengumpulan dan analisis data dasar.

Program ini didirikan tahun lalu dengan dukungan dari Bloomberg Philanthropies, Tiffany Co. Foundation dan Paul G Allen Philanthropies. Harapannya adalah bahwa jika terumbu utama dapat dilindungi dari stresor lain seperti polusi plastik dan penangkapan ikan berlebihan, mereka dapat mengatasi dampak terburuk perubahan iklim dan mengisi terumbu yang terkena dampak buruk begitu suhu laut menstabilkan.

Temuan survei Sulawesi akan membantu para ilmuwan dan konservasionis menargetkan program konservasi karang di tempat lain di dunia. Dengan waktu sekira tiga dekade diharapkan ekosistem global terselamatkan dari kepunahan.

Laut

Baca Juga: Terungkap Misteri Segitiga Bermuda, Tempat yang Menelan Banyak Korban Jiwa

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini