Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Regulasi Pajak Bisnis Cloud Computing Bebani Provider Lokal

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 25 September 2018 17:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 25 207 1955427 regulasi-pajak-bisnis-cloud-computing-bebani-provider-lokal-jYmJsiD7bm.jpg (Foto: ZDnet)

JAKARTA - Penerapan Cloud Computing atau komputasi awan saat ini sudah semakin marak di berbagai bisnis digital seperti startup. Menilik lebih jauh bisnis Cloud Computing di Indonesia, ini dinilai menjadi bisnis yang menjanjikan.

Beberapa provider lokal sebut saja CBNCloud, Cloudmatika, Datacomm Cloud, Indonesian Cloud, Lintasarta, Microsoft Indonesia, Telkomtelstra, VibiCloud, dan Zettagrid Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI), Alex Budiyanto juga mengatakan jika penggunaan Cloud Computing saat ini juga sangat menjanjikan, di mana perusahaan hanya menyediakan modal kecil, karena tidak menyediakan infrastrukturnya seperti server dan lain sebagainya.

 

Sehingga, Cloud Computing ramah bagi bisnis awal dengan modal kecil. Saat ini 4 bisnis startup unicorn di Indonesia pun menggunakan Cloud Computing sebagai fondasinya.

Namun sayangnya, dia mengatakan jika untuk saat ini regulasi atau undang-undang mengenai pajak bisnis Cloud Computing masih membebani provider lokal. Sehingga level kompetisi menurut dia antara provider lokal dan global tidak sebanding atau tidak sehat.

"Provider lokal dikenakan pajak sekitar 10 persen, sementara global tidak memiliki pajak. Sehingga provider lokal pasti akan 10 persen lebih mahal, sementara global 10 persen lebih murah," kata dia saat ditemui di Gedung Serbaguna Kemkominfo, Selasa (25/9/2018).

Lebih lanjut dia mengatakan jika regulasi tentang pajak tersebut sedang diajukan ke Pemerintah dalam poin 8 PP82 tahun 2012.

Baca juga: Dua Pendiri Instagram Mundur dari Facebook, Ada Apa?

"Industri dan bisnis Cloud Computing di Indonesia juga akan sangat bergantung pada implementasi regulasi perpajakan, walaupun ini di luar dari ruang lingkup draft Rencana Perubahan PP 82/2012. Kami memberikan saran agar penerapan pajak haruslah adil dan setara baik itu untuk pemain lokal (local provider) dengan OTT asing (global provider)," seperti dikutip dari laman resmi ACCI.

Lebih lanjut menanggapi tentang kedatangan global provider di Indonesia seperti AWS, Alex menuturkan jika hal tersebut baik karena ada penanaman investasi di sini.

 

Baca juga: Google Jelajah Danau Toba hingga 360 Km untuk Layanan Street View

"Namun tetap jangan diistimewakan, jangan misalnya dia investasi sekian juta dolar kemudian diistimewakan," kata dia.

Namun yang pasti, lanjut dia persaingan juga harus sehat dan diharapkan provider lokal menjadi tuan rumah di Tanah Air.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini