Waspada, Bermain Gadget Mampu Turunkan Kecerdasan Otak Anak

Nadia Tisca Ekasari, Jurnalis · Jum'at 28 September 2018 10:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 27 56 1956464 waspada-bermain-gadget-mampu-turunkan-kecerdasan-otak-anak-POEhxgsWYA.jpg Ilustrasi (Foto: Medical Daily)

JAKARTA – Penelitian baru-baru ini menyebutkan jika penggunaan smartphone yang lama mampu menurunkan kecerdasaan otak anak. Mereka menemukan kemampuan mental yang lebih baik di antara anak-anak berumur 8-11 tahun yang menghabiskan kurang dari 2 jam menatap layar smartphone.

Dilansir dari laman Medical Daily, Jumat (28/9/2018), Jeremy Walsh, penulis utama studi dan mantan rekan pasca-doktoral di Children’s Hospital of eastern Ontario mengatakan perilaku ini tidak pernah dipertimbangkan dalam kombinasi. Sebagian dari penelitian 4500 anak di Amerika Serikat disurvei pada perilaku dan juga dinilai pada kemampuan kognitif mereka yang termasuk bahasa, memori, kecepatan, pemrosesan dan perhatian.

Secara keseluruhan hanya 5% dari anak-anak dalam penelitian ini memenuhi ketiga rekomendasi tidur, waktu layar, dan aktivitas fisik sementara 30% tidak memenuhi satupun rekomendasi. Angka 5% yang disebutkan tadi mencetak hasil terbaik pada tes kemampuan kognitif.

Tablet

Baca Juga: LG V40 ThinQ Dilengkapi Fitur 5 Kamera, Ini Wujudnya

Tetapi, sebagaimana dicatat para peneliti, semakin banyak rekomendasi individual yang dilakukan anak, semakin baik kognisi mereka. Lalu untuk memastikan perkembangan kognitif yang baik pada anak-anak. Pedoman Gerakan 24 jam Kanada menyediakan rekomendasi seperti 9-11 jam tidur, kurang dari 2 jam waktu untuk bermain gadget dan setidaknya 1 jam aktivitas fisik setiap hari.

Menggunakan perangkat smartphone untuk bermain game atau menonton video disebut sebagai pengguna layar rekreasional. Jika berlama-lama, diketahui secara independen berdampak pada kesehatan kognitif seorang anak.

Studi berjudul "Associations between 24 hour movement behaviours and global cognition in US children: a cross-sectional observational study" ini telah diterbitkan dalam jurnal Lancet Child & Adolescent Health pada 26 September 2018.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini