nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ilmuwan Terkejut dengan Besarnya Kekuatan Tsunami di Indonesia

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Senin 01 Oktober 2018 16:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 01 56 1958083 ilmuwan-terkejut-dengan-besarnya-kekuatan-tsunami-di-indonesia-zONaqGT0pp.jpg Pasca Tsunami di Palu, Sulteng (Foto: New York Times)

JAKARTA - Para ilmuwan mengatakan terkejut dengan ukuran gelombang tsunami yang menghancurkan Palu dan Donggala, pada 28 September 2018. Gelombang tinggi sekitar 3 meter menerjang setelah gempa 7,5 SR.

 "Kami memprediksi itu bisa menyebabkan tsunami, tidak hanya sebesar itu," kata seorang ahli geofisika dan dosen Humboldt State University, Jason Patton.

Dia menambahkan, "Ketika peristiwa seperti ini terjadi, kami lebih mungkin menemukan hal-hal yang belum pernah kami amati sebelumnya".

 Dilansir dari laman New York Times, Senin (1/10/2018), gempa berkekuatan 7,5 SR yang melanda pada Jumat sore, berpusat di sepanjang pantai pulau Sulawesi sekitar 50 mil sebelah utara Palu.

Tak lama setelah itu dalam 30 menit tsunami gelombang setinggi 18 kaki menyerang kota tersebut. Akibatnya beberapa bangunan dan kendaraan hancur, serta menewaskan ratusan orang. Menurut ahli, jumlah korban yang tinggi juga dapat mencerminkan kurangnya sistem canggih di Indonesia untuk deteksi dan peringatan tsunami.

Bencana tsunami biasanya terjadi setelah adanya gempa Bumi megathrust. Ini merupakan fenomena ketika bagian besar dari kerak Bumi berubah bentuk, bergerak secara vertikal di sepanjang patahan.

Kemudian, menggantikan sejumlah besar air, menciptakan gelombang yang dapat melaju dengan kecepatan tinggi melintasi cekungan samudera dan menyebabkan kehancuran ribuan mil dari asal gempa.

Sebelumnya, tsunami setinggi 100 kaki juga terjadi di Aceh dan menewaskan hampir seperempat juta orang. Tsunami tersebut terjadi setelah adanya gempa megathrust berkekuatan 9,1 SR. Sementara itu, apa yang terjadi di Sulteng adalah strike slip, di mana gerakan Bumi sebagian besar horizontal. Gerakan semacam itu biasanya tidak akan menciptakan tsunami.

Namun, ada kemungkinan lain terjadinya tsunami diciptakan secara tidak langsung. Guncangan keras selama gempa mungkin telah menyebabkan longsor bawah laut dan menciptakan gelombang. Kejadian seperti itu tidak biasa beberapa terjadi pada gempa berkekuatan 9,64 SR, misalnya di Alaska pada 1964.

 Tsunami di Palu

Baca Juga: Warganet Singapura Lebih Sering Kunjungi Situs Porno Ketimbang Media Sosial

Dr Patton mengatakan kombinasi faktor mungkin telah berkontribusi pada tsunami. Studi tentang dasar laut akan sangat penting untuk memahami peristiwa tersebut.

"Kami tidak akan tahu apa yang menyebabkannya sampai itu selesai," katanya.

Tsunami juga bisa terjadi karena dampak lokasi atau geografis

Palu. Garis pantai dan kontur dasar teluk bisa memfokuskan energi gelombang dan mengarahkannya ke teluk, meningkatkan gelombang saat mendekati pantai.

Efek semacam itu juga telah terlihat sebelumnya. Crescent City, California, telah terkena lebih dari 30 tsunami, termasuk satu setelah gempa Alaska 1964 di mana 11 orang tewas, karena kontur dasar laut di wilayah tersebut dan topografi dan lokasi kota.

"Untuk memprediksi tsunami, Indonesia saat ini hanya menggunakan seismograf, yang memiliki efektivitas terbatas," kata Louise Comfort, seorang profesor di sekolah pascasarjana University of Pittsburgh.

Di Amerika Serikat, Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional memiliki jaringan canggih dari 39 sensor di dasar samudra yang dapat mendeteksi perubahan tekanan yang sangat kecil yang menunjukkan jalannya tsunami. Data kemudian diteruskan melalui satelit dan dianalisis, dan peringatan dikeluarkan jika diperlukan.

Dr. Comfort mengatakan bahwa Indonesia memiliki jaringan yang sama dengan 22 sensor tetapi tidak lagi berfungsi karena rusak. 

Saat ini, dia akan mengerjakan proyek yang akan membawa sistem baru ke Indonesia untuk menghindari penggunaan pelampung permukaan yang dapat dirusak atau ditabrak kapal. Dr. Comfort mengatakan dia telah mendiskusikan proyek ini dengan tiga lembaga pemerintah Indonesia.

"Sangat memilukan ketika Anda tahu teknologi yang ada di sana. Indonesia ada di Ring of Fire, tsunami akan terjadi lagi," imbuh dia.

 Bangunan Rusak Pascagempa di Palu

Baca Juga: Ini Prosesor Terbaik untuk Laptop Gaming, Apa Saja?

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini