Media Sosial Jadi Sumber Sejarah Peradaban Masa Depan

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 17 Oktober 2018 14:07 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 17 207 1965177 media-sosial-jadi-sumber-sejarah-peradaban-masa-depan-IbXTrXh9GT.jpg (Foto: AdLibbing.org)

DEPOK - Ketua Ikatan Alumni (Iluni) Sejarah Universitas Indonesia Patria Gintings mengatakan, media sosial akan menggantikan daun lontar, prasasti hingga piramida sebagai sumber sejarah peradaban pada masa yang akan datang. Hal itu terjadi akibat perubahan peradaban yang cukup radikal dari analog ke digital.

“Jika dahulu orang mencatat peristiwa hidupnya dalam buku harian. Sekarang hampir semuanya dilakukan di media sosial. Orang bercerita, mengeluh, mengutarakan pendapatnya, mengabadikan momen-momen hidupnya di media sosial,” kata Patria dalam diskusi yang digelar Iluni Sejarah UI di Depok, Jawa Barat.

Dahulu kala, kata Patria, jejak peradaban kuno dunia ribuan tahun lalu bisa diketahui berdasarkan hasil penelusuran dan penelitian lewat medium prasasti, lembar lontar hingga piramida. Begitu pun di Indonesia. Bangsa Indonesia, lanjut Patria, dapat mempelajari rekam jejak tokoh-tokoh seperti Kartini dan Soe Hok Gie lewat catatan harian yang ditulis di buku.

“Namun, sekarang orang lebih banyak kirim e-mail, lebih banyak nge-tweet, lebih banyak nulis di blognya. Jadi harus mulai dipikirkan cara menyelamatkan semua sumber itu, kalau kita ingin generasi masa depan Indonesia belajar tentang Kartini-kartini digital atau Soe Hok Gie-Soe Hok Gie digital,” kata Patria.

 

Diskusi bertajuk “Sejarah Menghadapi Era Digital” itu menghadirkan sejumlah pembicara. Mereka di antaranya sejarahwan publik UI Kresno Brahmantyo, Kepala Kebijakan Publik Twitter Indonesia Agung Yudha dan Gilang Sukmahavi dari LM Brand Strategist.

“Pada masa mendatang nantinya peradaban kita yang semakin digital harus dipelajari dari blog, vlog, postingan di medsos, chatting di WA. Suatu hari nanti, semuanya itu akan menjadi sumber sejarah yang perlu dicari, dianalisa, dan dituliskan oleh para peneliti sejarah,” ujar Patria seraya menambahkan pengguna aktif media sosial di Indonesia diperkirakan mencapai 130 juta berdasarkan penelitian We Are Social & Hootsuite tahun 2018.

Oleh karena itu, Patria mendorong praktisi lintas zaman di Indonesia dapat bertemu untuk membahas bagaimana jejak peradaban digital terdokumentasikan dengan baik.

“Alangkah lebih baik jika kisah peradaban digital kita nanti diceritakan oleh sejarawan masa depan sebagai era peradaban yang penuh kolaborasi, penuh kemajuan, penuh kreatifitas dan inovasi. Bukan peradaban yang banyak caci maki marah-marah atau hoax,” ujar Patria berharap.

Patria mengatakan, usaha-usaha untuk memunculkan database sumber-sumber atau karya-karya sejarah dalam ranah digital juga sudah mulai banyak dilakukan. Seperti yang dilakukan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di tahun 2012 dengan melakukan pemindaian (scanning) untuk digitalisasi koleksi sejumlah besar arsip tulisan tangan tertua yang dimiliki mereka. Usaha ini diberi nama DASA (Digital Archive System) oleh ANRI.

Baca juga: Huawei Mate 20 X Usung Layar 7,2 Inci, Intip Spesifikasinya

Sementara itu, Sejarahwan Publik Universitas Indonesia Kresno Brahmantyo mengatakan, sumber digital pada masa mendatang akan menjadi tren bagi para sejarahwan. Oleh karena itu, Kresno menantang para pengguna media sosial saat ini mempublikasikan segala hal yang baik karena akan menjadi sumber sejarah pada masa mendatang.

“Pada Tahun 2006, Time merilis majalahnya dengan konten “Person of The Year”-nya adalah “You”. Hal itu karena internet berkembang dan banyak penggunanya yang mengunduh berbagai konten tentang dirinya masing-masing. Konten itu membuat para penggunanya membuat sejarah tentang dirinya sendiri,” kata Kresno.

Kresno menjelaskan, negara lain sudah mengembangkan fitur-fitur untuk pencarian sumber sejarah. Contohnya Australia memiliki Trove, History Lab (podcast), dan State Library. Setelah itu, Amerika Serikat memiliki Historypin dan Historypics (Twitter). “Lalu bagaimana dengan Indonesia dalam memenuhi hal tersebut?,” ujar Kresno.

 

Sementara itu, Kepala Kebijakan Publik Twitter Indonesia Agung Yudha mengatakan, media sosial memberikan ruang kepada penggunanya untuk memanfaatkan fitur-fitur yang ditawarkan. Setiap media sosial, lanjut Agung, memiliki platform dan fungsi yang berbeda.

Baca juga: Ini Penyebab YouTube Down Lebih dari 1 Jam

“Sebagai contoh Twitter berfungsi untuk mengupdate tren terakhir atau saat ini, terhubung dengan pengguna lain, mengekspresikan karya pribadi, berbagi opini. Twitter berfungsi untuk mengobrol atau diskusi di mana para pengguna yang lainnya dapat melihat dan terhubung langsung ke sana untuk mempermudah komunikasi,” ujar Agung.

Terkait dengan kesahihan sumber di media sosial, kata Agung, bisa dilihat dari latar belakang penulis dan mencocokannya dengan tulisan-tulisan yang lain. “Dalam mengutip sebuah sosial media ada fitur untuk yang langsung terhubung dengan pihak pengunggah, bukan dengan cara menangkap gambar kemudian dilampirkan dalam bentuk publikasi lainnya tanpa meminta izin sebelumnya,” tutur Agung.

Meski demikian, Agung mengatakan, media sosial akan menjadi tambahan metode sebagai data sumber sejarah. “Namun bukan berarti ketika di era digital ini, metode lama seperti buku, surat kabar, dan arsip ditinggalkan,” ujar Agung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini