Kisah Bos Tokopedia, Semangat 'Bambu Runcing' Menapaki Bisnis E-Commerce

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Sabtu 27 Oktober 2018 15:07 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 27 207 1969682 kisah-bos-tokopedia-semangat-bambu-runcing-menapaki-bisnis-e-commerce-WYOrbVLumJ.jpg William Tanuwijaya, Pendiri Tokopedia

JAKARTA - Bisnis e-commerce di Indonesia pada satu dekade lalu belum menjamur seperti saat ini. Apa yang dapat disaksikan pada hari ini ialah jerih payah para founder yang membangun startup mulai dari nol.

Berkat keinginan yang kuat dan kegigihan dalam berusaha, maka seseorang berpeluang mencapai kesuksesan yang diidam-idamkan. Namun, segala sesuatunya tidaklah mudah, diperlukan kerja keras sehingga membuahkan hasil yang maksimal.

Seperti yang dialami oleh pendiri Tokopedia, William Tanuwijaya. Pria kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara ini telah melewati berbagai macam episode kehidupan, mulai dari penjaga warnet hingga berhasil mendirikan startup marketplace, Tokopedia.

William menceritakan perjalanannya merantau dan mengenyam pendidikan tinggi di Ibukota. "Naik kapal 4 hari 3 malam dari Belawan ke Tanjung Priok, itu pertama kalinya saya keluar dari Sumatera Utara," ujarnya.

 

Ia melanjutkan, pada tahun ke-2 di Jakarta, ayah mulai jatuh sakit. "Untuk tetap bisa berada di Jakarta, saya pun mencari pekerjaan sampingan. Minim pengalaman, saya beruntung diterima menjadi penjaga warnet 24-jam untuk shift malam di sekitar kampus," tuturnya.

Lulus kuliah di 2003, ia ingin bekerja di perusahaan internet, namun perusahaan yang ia kagumi seperti Google dan Facebook, belum memiliki kantor cabang di Indonesia. William kemudian bekerja di beberapa perusahaan pengembang software. Tahun 2007 adalah tahun dimana dirinya melihat potensi membangun Tokopedia.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, menyimpan sejuta potensi. Namun, karena infrastruktur yang belum merata, masyarakat yang tinggal di kota kecil dan pedalaman harus pindah ke kota besar untuk mendapatkan kesempatan dan peluang yang lebih besar.

Demikian juga akses terhadap produk dan layanan, tidak jarang masyarakat di kota kecil justru harus membayar lebih dibandingkan masyarakat di kota besar.

 

"Saya melihat teknologi, lewat internet dapat menjadi solusi terhadap permasalahan tersebut. Terpikirlah ide membangun marketplace yang menghubungkan penjual dan pembeli dari seluruh nusantara, menyelesaikan masalah ketimpangan peluang dan kepercayaan," jelasnya.

Untuk mendapatkan modal, ia pun berupaya mencari pemodal-pemodal ventura dan datang ke bos tempatnya bekerja. Ia mengungkap ide tentang membangun marketplace pertama di Indonesia. Lalu, William pun diperkenalkan dengan para calon pemodal.

Semangat Bambu Runcing

Selama dua tahun, William mencoba meyakinkan para calon pemodal dan menanyakan kepadanya beberapa pertanyaan. Beberapa pertanyaan yang menerpanya seputar latar belakang keluarganya hingga minimnya pengalaman membangun bisnis.

Hingga akhirnya ia menemukan nasehat untuk tidak bermimpi muluk-muluk, dan mencari hal yang lebih realistis.

"Saat itulah justru saya menemukan tujuan hidup saya. Alasan saya membangun Tokopedia adalah untuk memecahkan masalah kepercayaan. Namun saat saya ingin mendirikan perusahaan, saya menyadari memulai bisnis, adalah tentang membangun kepercayaan. Sayangnya kepercayaan sering diukur dari rekam jejak masa lalu. Di titik inilah saya menemukan semangat bambu runcing pertama saya, tentang Keberanian," terangnya.

 

Butuh waktu dua tahun, hingga akhirnya di 2009, Tokopedia bisa dimulai. "Hal pertama yang kami lakukan saat itu adalah kembali ke Universitas untuk melakukan perekrutan. Membangun perusahaan internet, sumber daya paling utama adalah pada talenta manusianya," jelasnya.

Setelah melewati sulitnya mencari tenaga pekerja karena ketika itu perusahaan teknologi dinilai tidak sepopuler saat ini, ia pun berbagi tentang visi, misi, dan mimpi yang ingin dibangun dari satu kampus ke kampus lainnya

"Lewat kegigihan tersebut, lambat laun Tokopedia berhasil membangun dan mengumpulkan talenta-talenta terbaik dari seluruh Indonesia. Saat ini, sudah hampir 3.000 putra-putri terbaik Indonesia, termasuk mereka lulusan terbaik perguruan-tinggi ternama dari seluruh dunia bergabung di Tokopedia, membangun aplikasi kelas dunia yang siap bersaing dengan para pemain global," katanya.

Seperti para pejuang kemerdekaan Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan dengan bambu runcing, para pejuang bersedia mempertaruhkan nyawa mereka, bukan karena keberanian dan kegigihan semata, namun didorong oleh harapan bahwa perjuangan mereka akan menghantarkan kemerdekaan bagi negeri ini.

"Tokopedia mengubah hidup saya, seorang dari kota kecil, punya kesempatan membangun multi billion dollar company di era digital. Namun tidak berhenti disana, lewat Tokopedia saya juga menyaksikan lebih dari empat juta masyarakat Indonesia telah memulai, mengembangkan bisnis, mengubah nasib dan masyarakat sekitar mereka dengan membuka lapangan pekerjaan baru," ujarnya.

Dengan semangat bambu runcing, harapan William, misi Tokopedia dalam pemerataan ekonomi secara digital akan dapat terwujud. "Saya selalu ingat, Bapak Pendiri Bangsa kita, Ir. Soekarno pernah menitipkan kepada bangsa ini untuk bermimpi sebesar-besarnya. Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang,” tuturnya.

Sumpah Pemuda di Era Milenial

Semangat Sumpah Pemuda menjunjung persatuan di Tanah Air, diwujudkan dengan berkumpulnya talenta-talenta muda yang memperkuat tim. Tokopedia memiliki talenta-talenta muda yang terdiri dari lulusan luar negeri atau yang pernah bekerja di perusahaan raksasa teknologi.

Misalnya, Syahril Ramadan pemuda asal Batam telah diterima menjadi Nakama (sebutan untuk karyawan Tokopedia, ed.) saat masih di bangku SMU. Priscilla Anais, MBA dari Harvard Business School memutuskan kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Tokopedia.

 

Herman Widjaja, pulang dari Amerika setelah 12 tahun bekerja untuk Microsoft, Google, Amazon, dan Facebook, juga bergabung sebagai Nakama. Mereka adalah bagian dari hampir 3.000 anak muda Indonesia yang setiap harinya bekerja di belakang layar, membangun perusahaan teknologi asal Indonesia, Tokopedia

Tokopedia juga menjadi platform bagi anak-anak muda Indonesia untuk berkarya dan membangun brand-brand masa depan Indonesia. Anggun, seorang survivor tsunami Aceh, kini membangun brand sale pisangnya dari kampung halamannya.

Brian, pulang dari Inggris untuk membangun brand furniture-nya lewat marketplace Tokopedia. Mereka bagian dari jutaan anak muda Indonesia yang telah membangun bisnisnya di atas platform Tokopedia.

Ini adalah wujud Sumpah Pemuda masa kini. Mereka yang menemukan satu alasan untuk bisa, di tengah jutaan alasan untuk tidak bisa. Mereka yang telah berani memulai dan terus membangun harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, lewat karya mereka masing-masing.

 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini