nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Facebook Akui Disalahgunakan untuk Menyebar Ujaran Kebencian

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Rabu 07 November 2018 14:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 07 207 1974511 facebook-akui-disalahgunakan-untuk-menyebar-ujaran-kebencian-9kOC1IkPHU.jpg (Foto: Reuters)

SAN FRANSISCO - Facebook Inc mengakui disalahgunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian pada etnik Muslim Rohingya di Myanmar dalam beberapa tahun terakhir.

Facebook berjanji menerapkan kebijakan baru untuk mencegah penyebaran ujaran kebencian terhadap Rohingya. Manajer Kebijakan Produk Facebook, Alex Warofka, mengakui upaya yang dilakukan selama ini masih belum cukup.

”Laporan Business for Social Responsibility (BSR) pada tahun ini menyatakan kami kurang gigih mencegah ujaran kebencian hingga memicu kekerasan terhadap kaum minoritas. Kami akan mengambil tindakan lebih jauh,”ujar Warofka dilansir kantor berita Reuters.

Saat ini Facebook mempekerjakan 99 ahli bahasa Myanmar. Facebook juga mencoba memperluas penggunaan teknologi baru yang bisa mengurangi penyebaran unggahan melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

 

Berdasarkan hasil penelitian BSR, Facebook telah digunakan sebagai sarana penghasutan terhadap etnis Muslim Rohingya di Myanmar hingga memicu diskriminasi berkepanjangan.

Pada Agustus tahun ini, Reuters menemukan bukti lebih dari 1.000 sampel unggahan, komentar, dan foto porno di Facebook yang digunakan untuk menyerang etnik Rohingya dan warga muslim setempat. Berbagai langkah yang dilakukan raksasa media sosial itu untuk mengakhiri ujaran kebencian di Myanmar pernah gagal.

CEO Facebook, Mark Zuckerberg, pernah mengatakan perkataan serupa dengan Warofka di hadapan Senator Amerika Serikat (AS) pada April lalu. Dia mengatakan, perusahaannya akan merekrut puluhan tenaga ahli bahasa Myanmar untuk memantau ujaran kebencian.

Bagaimana pun upaya tersebut tidak berhasil. Empat bulan sejak Zuckerberg berbicara di hadapan Senator, ujaran kebencian, baik baru atau lama, tetap menyebar luas di Facebook.

 

Unggahan seorang pengguna yang ditulis pada Desember 2013 juga tidak dihapus pihak Facebook. ”Kita harus melawan mereka seperti Hitler membantai Yahudi, kalar bangsat!" unggah seorang pengguna Facebook yang masih juga ada di platform itu.

Baca juga: Nokia Bakal Rilis Ponsel dengan 5 Kamera, Inikah Wujudnya?

Unggahan lain juga menunjukkan kebencian yang sama. Seorang pengguna mengunggah artikel berita dari media pendukung militer Myanmar terkait serangan terhadap pos polisi. "Kalar siluman telah membunuh dan menghancurkan tanah, air, dan suku kita. Kita harus menghancurkan mereka,” unggah seorang pengguna Facebook.

Pengguna ketiga membagikan link blog dengan foto pengungsi Rohingya berdempetdempetan di atas perahu saat akan mendarat di Indonesia. ”Siramkan bensin dan bakar sehingga mereka dapat bertemu Allah lebih cepat,” unggah seorang komentator di Facebook. Unggahan itu dipublikasikan 11 hari setelah testimoni Zuckerberg.

Tiga unggahan itu hanyalah contoh dari 1.000 unggahan ujaran kebencian yang dikumpulkan Reuters dengan waktu unggahan paling lama enam tahun terakhir. Hampir semuanya disampaikan dalam bahasa lokal dengan rata-rata konten berisi penghasutan penuh sumpah serapah, hinaan, atau kata-kata kasar lainnya.

 

Penggunaan Facebook sebagai sarana penyebaran kebencian tidak hanya dilaporkan Reuters dan BSR, tetapi juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). ”Facebook menjadi buas,” ungkap pernyataan PBB.

Baca juga: Ketahui 2 Cara Cek Ponsel Resmi atau Black Market

Sekira 700 ribu orang Rohingya melarikan diri dari Myanmar akibat penindasan, pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran. Selama bertahun-tahun, Facebook berupaya menghalau ujaran kebencian.

Pada awal 2015, Facebook hanya memiliki dua ahli bahasa Myanmar untuk mengawasi unggahan negatif. Sebelumnya mayoritas pengawas berbahasa Inggris. Meski tenaga ahli bahasa bertambah, Facebook tetap bergantung pada laporan pengguna.

Jumlah pengguna Facebook di Myanmar mencapai 11 juta. Dengan akses yang mudah dan cepat, para aktivis HAM berulang kali memperingatkan Facebook terkait potensi penyebaran ujaran kebencian di Myanmar.

”Kami menyampaikannya dengan jelas, tapi tidak ada tindakan nyata,” ujar aktivis HAM David Madden. Facebook terus didera berbagai masalah.

Tidak hanya dianggap membiarkan ujaran kebencian tetap beredar luas, Facebook juga mengalami masalah kebocoran data yang melibatkan jutaan akun pengguna. Untuk masalah ini Facebook juga mengakui kelalaiannya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini