nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bagaimana Reed Hastings Membangun Netflix hingga Mendunia?

Salman Mardira, Jurnalis · Kamis 08 November 2018 15:40 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 08 207 1975110 kisah-ceo-netflix-reed-hastings-bangun-netflix-hingga-kini-mendunia-dP3JkRL4ll.jpg CEO Netflix, Reed Hastings (Foto: Netflix)

SINGAPURA - Netflix kini menguasai sebagian besar pasar penyedia layanan streaming dan hiburan di dunia. CEO Netflix, Reed Hastings berbagi pengalaman membangun bisnisnya hingga sudah menjangkau 190 negara dengan 138 juta pelanggan.

"20 tahun yang lalu ketika kami bekerja di internet tidak cukup cepat untuk bisnis ini," kata Hastings di sesi pembuka pameran Netflix 'See What's Next: Asia' di Marina Bay Sands Expo and Convention Center, Singapura, Kamis (8/11/2018), yang dihadiri 200 media dan influencer dari 11 negara, termasuk Okezone.

Hastings yang sayogianya hanya sarjana Matematika mendirikan Netflix di Amerika Serikat pada 1997, awalnya hanya berupa layanan sewa DVD online. "Kami membangun DVDs di walmart, mengirimkan DVDs ini ke orang-orang," ceritanya.

Saat itu orang-orang masih banyak menyewa DVD untuk kemudian diputar di layar TV-nya. Tapi, kehadiran internet yang menjangkau berbagai belahan dunia mengubah segalanya. Masyarakat mulai suka menonton langsung melalui komputer, laptop dan beralih ke gadget hingga telepon pintar, meninggalkan DVD.

 

Hastings memanfaatkan perubahan ini sebagai peluang usaha menjanjikan untuk masa depan. Dia akhirnya meluncurkan layanan konten streaming melalui online. "Awal 2007, kami meluncurkan streaming Netflix di AS. Itu hanya bisa ditonton di Windows PC," ujarnya.

Tiga tahun kemudian, Netflix melebarkan sayap bisnis ke luar negeri. "Peluncuran internasional pertama 2010 di Kanada. Kami ingin melihat bagaimana dengan streaming saja, tidak ada DVD," kata Hastings.

Melihat sambutan pasar sangat menggiurkan, Netflix terus memperluas jangkauan dengan memperkuat konten. Enam tahun berlalu, Netflix pun hadir di berbagai negara termasuk Indonesia. Tapi, belum mampu masuk ke China.

"2016 kami buka di setiap bagian dunia kecuali China," tukasnya.

Netflix menyadari bahwa tidak semua orang suka menonton film, maka mereka pun membuka layanan konten lain. "Dokumenter misalnya, kami akan membangun komunitas bagi mereka yang menyukainya," tambahnya.

Baca juga: Galaxy X, Ponsel Berfitur Lipat yang Resmi Diumumkan Samsung

Hastings menilai Netflix masih kecil di dunia dibanding misalnya YouTube yang menurutnya ditonton tujuh kali lebih banyak karena konten disediakannya gratis.

"Mereka gratis tetapi ada di iklan layar. Apa yang kami lakukan berbeda. Kami berinvestasi cerita. Dari semua orang di seluruh Asia kami menghasilkan cerita. Ketika kita membuat stori membangun hubungan antarbudaya, kita akan menyadari bahwa kita hampir sama," pungkas Hastings.

Hastings kini tercatat masuk 400 orang terkaya versi Majalah Forbes. Kekayaannya mencapai USD2 miliar.

Netflix yang masuk dalam daftar salah satu perusahaan digital paling berpengaruh di dunia pada kuartal ke III tahun 2018, mencatatkan pendapatan sebesar USD4 miliar atau lebih dari Rp60 triliun, tumbuh 34,22 persen dibanding capaian kuartal sama pada tahun lalu.

Ted Sarandos, Chief Content Officer Netflix mengatakan pihaknya akan terus meningkatkan konten dengan menggandeng pembuat film dan mengangkat cerita-cerita menarik dari sebuah negara untuk dinikmati di seluruh dunia.

 

Baca juga: Melihat dan Merasakan Serunya Berkunjung ke Markas Netflix di Singapura

"Saya bertemu para pembuat film dengan kisah-kisah unik untuk diceritakan. Persahabatan cinta pengkhianatan dan segalanya. Kami mengambil nilai film yang luar biasa dan membawanya ke seri," ujarnya.

"Kami percaya cerita hebat datang dari mana-mana. Kami ingin bekerja dengan teller cerita terbaik," pungkasnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini