Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Salip Menyalip Perusahaan E-Commerce Indonesia di 2018

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Jum'at 21 Desember 2018 15:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 21 207 1994402 salip-menyalip-perusahaan-e-commerce-indonesia-di-2018-nBXHceIO9g.jpg (Foto: Entrepreneur)

JAKARTA - E-commerce menjadi topik hangat yang tidak henti dibicarakan orang-orang Indonesia sepanjang 2018. Topik ini menjadi ingar-bingar karena berbagai hal, mulai dari maraknya festival belanja online, kedatangan Jack Ma ke Indonesia yang dianggap sebagai salah satu sosok paling berpengaruh di ranah e-commerce dunia, hingga potensi menjanjikan sejumlah pemain e-commerce lokal berlabel Unicorn.

Yang terbaru tentunya kabar investasi USD1,1 miliar dari SoftBank pada Tokopedia sehingga menjadikan e-commerce itu sebagai perusahaan rintisan dengan valuasi paling besar di Indonesia.

Melalui keterangan resmi yang diperoleh Okezone, sebelum tahun ini berganti, iPrice menyelisik kembali para pelaku e-commerce terpopuler di Indonesia maupun di regional yang lebih luas, penetrasi yang paling menarik perhatian, maupun tren kompetisi yang terjadi di tengah industri ini.

Untuk melakukannya, iPrice mengalisis jumlah total kunjungan desktop dan mobile web dari 60 platform e-commerce Asia Tenggara menggunakan data dari SimilarWeb dan Google Trends.

Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia Meningkat Pesat

Akselerasi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia merupakan yang terdepan di Asia Tenggara. Dilansir dari laporan terbaru Google Temasek, ada perputaran uang sebesar USD27 miliar dari aktivitas ekonomi digital di negara ini sepanjang tahun 2018.

Pertumbuhan ini meningkat pesat hingga 49% sejak tahun 2015. Selain karena didukung oleh geografis pasar yang begitu luas, para penduduk Indonesia juga perlahan menjadikan internet sebagai penopang aktivitas sehari-hari mereka. Dari transportasi hingga aktivitas belanja online.

Baca juga: Indonesia Miliki Tingkat Spam Tertinggi di Asia Tenggara

Tahun 2018 sejauh ini menjadi periode terbaik untuk berbelanja online. Para pemain e-commerce berlomba-lomba memanjakan pelanggan mereka dengan beragam festival belanja yang diklaim penuh diskon dan cashback. Sedikitnya, ada enam agenda festival belanja online digelar di Indonesia sepanjang tahun ini.

Agenda jualan semacam ini dipercaya mampu menarik jumlah transaksi yang masif. Contohnya, Harbolnas yang baru berlalu mampu mencatatkan transaksi hingga Rp6,8 triliun hanya dalam dua hari gelarannya.

 

Konsumen Indonesia Masih Mengutamakan Layanan E-Commerce Lokal Daripada E-Commerce Regional

Kepercayaan Softbank pada Tokopedia dalam bentuk investasi sebesar USD1,1 miliar baru-baru ini terjalin bukan tanpa sebab. Performa perusahaan rintisan yang dipimpin William Tanuwijaya ini begitu mendominasi pasar e-commerce Tanah Air sepanjang tahun 2018.

Mengamati data SimilarWeb, jumlah kunjungan di situs Tokopedia selalu berada di atas situs e-commerce lain setiap bulannya. Kunjungan tertinggi Tokopedia terjadi pada September yang mencapai 169 juta pengunjung. Jumlah ini meningkat 123% dari kunjungan awal tahun 2018.

Tokopedia juga mampu mendominasi musim belanja besar di Indonesia, seperti periode Ramadan. Bukan rahasia lagi bila daya belanja orang Indonesia tergolong besar pada bulan puasa karena konsumen aktif berbelanja barang-barang baru untuk memeriahkan hari raya di penghujung Ramadan.

Pada periode ini, intensitas kunjungan yang tinggi di situs Tokopedia mampu membuat jarak cukup besar dengan pesaing lain.

Selain Tokopedia, orang Indonesia juga gemar menggunakan Bukalapak sebagai tempat berbelanja online. Sejak diumumkan sebagai salah satu Unicorn dalam industri ini, jumlah pengunjung desktop dan mobile web di situs e-commerce lokal ini senantiasa menanjak dari bulan ke bulan.

Jumlah kunjungan tertinggi Bukalapak terjadi pada November dengan angka 120.580.100 kunjungan. Jika dibandingkan dengan catatan pengunjung desktop dan mobile web mereka di Januari lalu, Bukalapak mampu membukukan margin hingga 69.244.100 kunjungan, alias meningkat 135%.

Penetrasi positif Bukalapak mampu menyalip Lazada yang sebelumnya ada di posisi 2 sebagai e-commerce dengan jumlah pengunjung desktop dan mobile web terbanyak di Indonesia.

Sementara itu, Lazada masih menjadi yang paling populer di Asia Tenggara karena menguasai 25% market share lebih banyak dibandingkan e-commerce lain di regional ini. Hanya saja, tahun 2018 agaknya bukan periode yang memuaskan bagi Lazada di Indonesia.

Kunjungan konsumen dalam negeri ke situs Lazada Indonesia melalui desktop dan mobile web tergolong flutuatif sepanjang 11 bulan belakangan. Padahal, penetrasi e-commerce ini tampak menjanjikan di awal tahun berkat akuisisi dan kucuran dana USD2 miliar dari Alibaba pada bulan Maret.

Lazada juga berjaya menangguk 85 juta kunjungan desktop dan mobile web ketika menggelar Lazada Birthday Fest satu bulan kemudian. Tapi, pada pertengahan tahun kunjungan di situs e-commerce ini menurun hingga titik terendah 33 jutaan pengunjung.

Kedatangan Jack Ma ke Indonesia di pertengahan tahun nyatanya juga tidak mampu mendongkrak ketertarikan orang-orang untuk berinteraksi lebih banyak di Lazada. Kendurnya kunjungan di situs Lazada semakin kasat mata jika dibandingkan dengan jumlah pengunjung desktop dan mobile web yang berhasil dikumpulkan Shopee sepanjang tahun ini.

Berkaca dari periode awal tahun performa Shopee meningkat hampir 3x lipat, mampu memangkas jarak dengan Lazada yang ada di peringkat tiga besar. Padahal, margin pengunjung Lazada dan Shopee di bulan Januari berada pada angka 51 juta.

Memperbanyak program promosi menjadi senjata utama Shopee dalam memancing konsumen untuk berkunjung ke situsnya.

 

Baca juga: Kominfo Blokir 500 Situs Terorisme, Radikalisme dan Separatisme

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini