Perang Tarif Operator Berdampak Buruk bagi Ekosistem Industri

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Minggu 23 Desember 2018 18:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 23 54 1995138 perang-tarif-operator-berdampak-buruk-bagi-ekosistem-industri-PcrPk6u0sS.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Ekosistem industri telekomunikasi di Indonesia dikabarkan berangsur membaik. Hal tersebut diungkapkan oleh Chief Technical Officer Huawei Indonesia, Vaness Yew dalam sesi media terbatas di Ubud, Bali, pada 20 Desember 2018.

Meskipun demikian, Vaness mengatakan jika ada beberapa masalah yang harus diselesaikan oleh para pelaku industri.

"Saat bisnis telekomunikasi berpindah dari layanan suara menjadi data, ekosistem industri menjadi tidak sehat akibat beberapa faktor," kata Vaness.

Salah satunya, lanjut dia yakni perang tarif yang dilakukan oleh operator di Indonesia menjadi faktor pertama yang menyebabkan lesunya industri telekomunikasi Indonesia pada 2018.

Vaness menyebutkan jika perang tarif yang dilakukan operator tidak menguntungkan siapapun dan berdampak buruk bagi ekosistem industri.

Dia membandingkan harga paket data satu bulan yang sama dengan segelas kopi di kafe. "Saya rasa hal itu tidak fair," kata Vaness.

Harga paket data yang murah tersebut kemudian akan menurunkan kualitas layanan pengguna akibat padatnya jaringan ketika perang tarif berlangsung.

"Skenario persaingan harga tersebut menyebabkan biaya operasional membengkak, operator kemudian tidak memiliki keleluasaan untuk berinvestasi dalam pembangunan jaringan yang baru akibat tingginya biaya operasional mereka," kata dia.

 

Baca juga: Indonesia Harus Optimalkan 4G Sebelum Beralih ke 5G

Vaness menambahkan, "Belum lagi soal rerata pendapatan per pengguna (ARPU) yang tidak terkatrol akibat ketatnya persaingan harga tersebut. Dengan ARPU operator yang berkisar di antara Rp20-40 ribu, Indonesia merupakan salah satu negara dengan ARPU terendah di dunia".

Di sisi lain, Vaness melihat ekosistem membaik salah satunya karena adanya kebijakan registrasi kartu sim prabayar yang diwajibkan per April 2017.

"Ini berperan penting dalam proses penyehatan industri. Operator bisa berhemat banyak dari pengurangan biaya untuk pencetakan kartu sim. Dengan jumlah pelanggan yang semakin terukur, mereka bisa fokus untuk meningkatkan kualitas jaringan dan layanan," katanya.

Selain menciptakan ponsel cerdasnya, Huawei memang telah aktif sebagai penyedia infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi.

 

Baca juga: Apple Siapkan iPad Mini 5 dan iPad 10 Inci di 2019

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini