Tsunami Terjadi Akibat Longsor Anak Krakatau, Ini Penjelasannya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 25 Desember 2018 13:32 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 25 56 1995735 tsunami-terjadi-akibat-longsor-anak-krakatau-ini-penjelasannya-MdJerOot3i.jpg (Foto: EPA/BBC)

Kemungkinan penyebab tsunami

Salah satu hal yang memilukan dalam kejadian seperti ini adalah melihat video orang-orang yang tidak tahu, bencana apa sebenarnya yang menyongsong mereka.

Jika terjadi gempa bumi besar yang berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau, orang-orang itu mungkin dapat mengambil langkah antisipasi.

Walaupun ada laporan aktivitas seismik, tetap tidak cukup signifikan untuk membuat orang bersiap-siap. Mereka harus mengandalkan diri sendiri untuk menyelamatkan diri karena dalam kasus seperti ini, jarak mereka dengan sumber tsunami sangatlah pendek.

 

"Buoy tsunami dipasang untuk mengumumkan bahwa terjadi tsunami yang berasal dari gempa bumi pada batas-batas lempeng tektonik. Walaupun terdapat buoy di sekitar Anak Krakatau, buoy itu terlalu dekat dengan garis pantai yang terdampak sehingga, waktu peringatan akan menjadi sangat minim mengingat kecepatan tsunami," Profesor Dave Rothery dari Universitas Terbuka Inggris.

Peristiwa ini dan peristiwa di Palu, di mana orang-orang tidak siap menghadapi bencana, menunjukkan bahwa investigasi lebih jauh dibutuhkan untuk daerah-daerah rawan bencana.

Riset-riset besar telah menyimpulkan apa yang disebut dengan gempa bumi subduksi dan tsunami, seperti bencana di tahun 2004 yang bersumber dari Palung Sunda, di mana lempeng-lempeng tektonik menukik satu sama lain. Sains perlu memberi perhatian lebih terhadap ancaman-ancaman besar tsunami terhadap daerah-daerah tertentu.

Hal tersebut diungkapkan dalam Rapat Persatuan Geofisik Amerika - pertemuan peneliti sedunia terbesar yang diadakan setiap tahun.

"Fokus akan selalu diberikan kepada daerah yang terdampak," ujar Profesor Hermann Fritz dari Institut Teknologi Georgia, Amerika Serikat, saat konferensi itu.

"Kami selalu memberi perhatian pada Sumatera dan Jawa, dua pulau dengan palung subduksi yang besar. Pusat peringatan selalu berfokus ke sana - karena kita mengalami bencana besar, seperti di Jepang (2011), Chile pada tahun 2010 dan Sumatera pada tahun 2004," kata Hermann Fritz.

"Semua itu adalah peristiwa yang terkait dengan zona subduksi klasik, maka semuanya berfokus ke sana- sains dari para ilmuwan dan peringatan-peringatan dari pusat-pusat peringatan."

 

Baca juga: 6 Smartphone Terbaik yang Rilis di 2019

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini