Ini Langkah WhatsApp Jadi Platform Aman Jelang Pemilu 2019

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Senin 21 Januari 2019 16:22 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 21 207 2007355 ini-langkah-whatsapp-jadi-platform-aman-jelang-pemilu-2019-F49O0zpEFe.jpg (Foto: Pernita Hestin Untari/Okezone)

JAKARTA - Berita palsu atau hoax yang tersebar di berbagai media sosial memang kerap marak jelang tahun politik. Tak berbeda pula di Indonesia yang akan menggelar Pemilu 2019 pada 17 April 2019.

WhatsApp sebagai aplikasi perpesanan yang populer di Indonesia juga turut andil dalam penanganan berita hoax.

"Kami telah bekerja keras untuk hal ini (berita palsu). Kami memiliki banyak engineering yang memikirkan ini agar WhatsApp menjadi platform yang aman. Bahkan CEO kami juga mengatakan bahwa akan menjaga integritas pemilu 2019," kata Vice President Public Policy & Communications, WhatsApp, Victoria Grand dalam acara Facebook Indonesia Press Circle: Elections Integrity, Pemuda Memilih, di Jakarta, Senin (21/1/2019).

Adapun beberapa hal utama yang dilakukan WhatsApp untuk mendukung pemberantasan berita palsu yakni mengurangi viralitas pesan-pesan WhatApp. Menurut Victoria pesan terusan atau forward merupakan salah satu sumber utama adanya hoax.

Sehingga, WhatsApp berusaha untuk menurunkan kapasitas pengiriman pesan yakni hanya 5 pesan forward. Sebelumnya, pesan bisa diteruskan hingga 20 kali ke akun lain.

Penurunan limit ini berkaca dari kebijakan WhatsApp di India, di mana di negara tersebut telah diterapkan 5 kali pesan forward dan dampaknya 25 persen pengguna WhatsApp menurukan perilaku tersebut. Tentunya ini diharapkan akan berdampak baik agar tidak tersebarnya berita palsu lebih luas.

 

Baca juga: WhatsApp Akan Hadirkan Fitur Lock Fingerprint untuk Android

"Untuk ini, WhatsApp telah berdiskusi dengan pemangku kemungkinan di Indonesia salah satunya Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara agar lebih aman," kata Victoria.

Bahkan Head of Public Affair WhatsApp, Carl Woog menambahkan pembaruan tersebut sudah dapat berlaku saat pengguna meng-update aplikasi.

Selain ada penurunan pesan forward, lanjut Victoria WhatsApp juga melakukan identifikasi jika ada penyalahgunaan dengan melihat perilaku normal dan abnormal di WhatsApp.

"Ada ratusan engineer yang mengidentifikasi perilaku pengguna. Kenapa perilakunya? Karena WhatsApp tidak bisa melihat pesan pengguna karena ada fitur end to end encryption. Contoh di Brazil WhatsApp telah menghapus 400 ribu akun WhatsApp karena terdeteksi melakukan spaming," jelas Victoria.

Kemudian, WhatsApp juga memilili fitur pelaporan. Cara kerjanya jika pengguna memiliki pesan yang bermasalah bisa dilaporkan.

Terakhir, WhatsApp juga membangun kerjasama dengan organisasi internasional ICT World untuk pengecekan fakta.

 

Baca juga: Mirip Change.org, Facebook Rilis Fitur Petisi Online

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini