Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Investor Kucurkan Dana Triliunan, Startup Indonesia Dikuasai Asing

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Senin 28 Januari 2019 12:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 28 207 2010284 investor-kucurkan-dana-triliunan-startup-indonesia-dikuasai-asing-56KO5rWpI8.jpg (Foto: India Today)

JAKARTA - Berbagai investor raksasa mancanegara mengucurkan dana besar-besaran untuk startup Indonesia. Hal ini membuat kepemilikan empat perusahaan rintisan atau startup Indonesia dikuasai oleh asing.

Dikutip dari Koran-sindo, suntikan dana besar-besaran yang mendukung perkembangan dan ekspansi bisnis membuat Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka menjelma menjadi unicorn.

Unicorn adalah sebutan bagi startup yang valuasi usahanya minimal USD1 miliar. Terbaru, seperti dilaporkan Tech-Crunch, Go-Jek telah mendapat persetujuan suntikan dana dari beberapa investor: Google, JD.com, dan Tencent sebesar USD920 juta (Rp13 triliun) yang bakal menaikkan valuasi perusahaan menjadi sekira USD9,5 miliar.

Artinya, tinggal selangkah lagi Go-Jek “naik kelas” menjadi decacorn, yaitu startup dengan valuasi USD10 miliar ke atas.

Di antara puluhan investor Go-Jek, diketahui hanya ada dua perusahaan dari dalam negeri, yakni Astra International Tbk (Indonesia) dengan kucuran dana USD150 juta (Rp2 triliun) dan Global Digital Niaga, anak perusahaan modal ventura Global Digital Prima (GDP) milik Djarum Group. Mereka tergabung dalam konsorsium investor yang menyuntikkan dana ke Go-Jek pada putaran penggalangan dana mulai akhir 2017 hingga awal 2018.

Para investor lain Go-Jek kebanyakan perusahaan Amerika Serikat, China, dan Singapura. Dominasi kekuatan ekonomi asing di balik startup lokal yang telah menjelma menjadi unicorn juga bisa dilihat di Tokopedia.

Hanya ada satu investor lokal di perusahaan ini, yaitu Indonusa Dwitama, di antara sembilan perusahaan yang terdata oleh crunch base.com. Indonusa Dwitama merupakan pemodal pertama Tokopedia serta menjadi bagi an tak ter lepaskan dari sejarah awal perjalanan e-commerce yang didirikan William Tanu wijaya dan Leontinus Alpha Edison.

 

Baca juga: Benarkah Teknologi Merusak Daya Ingat Anak-Anak?

Kucuran dana terbaru yang diterima Tokopedia berasal dari Alibaba Group (China) dan Softbank Vision Fund (Inggris) senilai USD1,1 miliar melalui penjualan saham seri G pada 21 November 2018. Unicorn lokal lain, Traveloka, juga berkembang dengan kucuran dana dari investor AS, China, Jepang, dan India. Tak tercatat satu pun investor lokal di perusahaan agregasi jasa perjalanan online ini.

Beda dengan itu, mayoritas saham Bukalapak masih dikuasai PT Emtek yang masuk ke e-commerce besutan Achmad Zaky dan Nugroho Heru cahyono ini sejak 2014. Emtek, melalui anak perusahaannya, PT Kreatif Media Karya (KMK) memiliki 49,15% saham Bukalapak dari beberapa putaran investasi yang nilainya ditaksir hampir mencapai Rp500 miliar.

Namun, Emtek hanya satu dari dua investor lokal Bukalapak. Satu investor lokal lainnya adalah Batavia Incubator, perusahaan join Corfina Group dengan mitranya, Rebright Partners, spesialis inkubator dari Negeri Matahari Terbit.

Dari lima investor asing Bukalapak, tiga perusahaan dari Jepang, satu dari AS, dan satu perusahaan Korea Selatan yang baru saja mengucurkan USD50 juta pada pekan lalu. Pengamat ekonomi dari Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan, gencarnya investasi asing masuk ke perusahaan-perusahaan rintisan nasional dalam jangka panjang akan merugikan kedaulatan ekonomi Indonesia.

“Mayoritas barang yang dijual e-commerce merupakan barang impor dengan harga semisubsidi. Akhirnya, produk UMKM lokal tidak mungkin bisa bersaing dari sisi harga,” urainya.

 

Baca juga: Tinggalkan Industri 4.0, Jepang Sudah Jauh Melaju di Era 5.0

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini