10 Ribu Pengguna Domain .ID Berasal dari Asing, Ini Penjelasan Ketua PANDI

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 31 Januari 2019 15:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 31 207 2011931 10-ribu-pengguna-domain-id-berasal-dari-asing-ini-penjelasan-ketua-pandi-zeqWC0e5dx.jpg (Foto: Pernita Hestin Untari/Okezone)

JAKARTA- Sejak diluncurkan pada 2014 jumlah domain .ID yang dicanangkan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) semakin tumbuh. Tercatat hingga Desember 2018 sudah ada 281.467 domain. Angka ini naik 12 persen dari tahun sebelumnya. Kemudian, rata-rata pengakses DNS.ID per hari sebanyak 529 juta kali.

Menurut ketua PANDI, Andi Budimansyah tak hanya Indonesia, sebaran domain .ID juga merambah di luar negeri yakni sekira 3,65 persen dari total domain atau mencapai 10.274 domain. Beberapa wilayah di luar negeri yang menggunakan domain .ID antara lain Amerika, Asia Pasific, dan Eropa.

"Minat luar negeri ke domain .ID itu besar dan memang domain .ID itu boleh untuk asing. Akhir 2018, sekitar 10 ribu orang luar negeri daftarkan domain. Pengakses domain Pandi di luar negeri terbanyak dari Amerika Serikat dan hosting domain .ID terbanyak di US, Rumahweb.id dan idnic satu induk perusahaan. Saat ini memang banyak orang yang investasi ke domain, 75% domain aktif dan sekira 25% domain tidak aktif dari data 2018," kata Andi di Go Work, FX Sudirman, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

 PANDI

Baca Juga: Google+ Ditutup April, Sejumlah Fitur Dimatikan Mulai Februari

Selanjutnya, Andi juga menjelaskan jika saat ini pihaknya terus berusaha agar domain .ID menjadi domain utama masyarakat di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan bagi PANDI untuk mempromosikan Domain .ID.

“Selain resolved Domain .ID yang lebih cepat, penggunaan Domain .ID tentunya juga akan menghemat bandwidth Internet Service Provider (ISP) Indonesia, karena DNS Domain .ID tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.” imbuh Andi.

Lebih lanjut, menurut Direktur Teknologi dan Operasional Muhammad Salahuddien Manggalanny penggunaan domain .ID perlu lebih masif, pasalnya ini merupakan identitas Indonesia.

"Kalau kita tidak memproteksi dan mengoptimalkan domain ini, jika tidak akan dikuasai global. Karena saat ini unicorn-unicorn Indonesia sudah dikuasai asing. Saat masih kecil mereka tidak dilirik, tetapi ketika orang asing investasi hingga triliunan banyak yang teriak-teriak, kita sering telat," imbuhnya.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini