Studi Baru Ungkap Gempa di Indonesia Sangat Langka

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 07 Februari 2019 08:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 06 56 2014394 studi-baru-ungkap-gempa-di-indonesia-sangat-langka-0YYXXP5cpB.jpg Ilustrasi Gempa (Foto: Tech Times)

JAKARTA- Sebuah studi baru menyebutkan, gempa yang terjadi di Indonesia sangat langka. Khususnya yang terjadi di Palu pada 28 September 2018. Gempa di Palu memiliki kekuatan 7,5 skala richter dan menewaskan 2.00 orang dan ribuan lainnya hilang.

Dilansir dari laman Tech Times, Kamis (7/2/2019) gempa bumi terjadi ketika tekanan yang terbentuk di kerak bumi mengenai titik putus yang menyebabkan batuan di kedua sisi sesar tektonik bergeser arah. Gelombang S yang menggeser batuan biasanya merambat sekitar 3,5 kilometer per detik, dan gelombang P, yang mengompres batu, merambat lebih cepat sekitar 5 kilometer per detik.

Pengamatan geofisika menunjukkan bahwa kecepatan di mana gempa pecah di sepanjang patahan cenderung lebih lambat dari gelombang S atau hampir secepat gelombang P. Dalam peristiwa di Palu, gelombang pecah bergerak di sepanjang sesar sangat cepat, menyebabkan gelombang sisi ke sisi dan naik-turun yang mengguncang tanah menumpuk dan mengintensifkan.

Gempa Palu

Baca Juga: Twitter Bakal Hadirkan Fitur Edit Postingan

Ini menghasilkan getaran yang jauh lebih kuat daripada gempa yang lebih lambat. Analisis data seismologis mengungkapkan bahwa gempa Palu pecah dengan kecepatan jauh lebih cepat 4,1 kilometer per detik. Itu bergerak di sepanjang garis patahan sepanjang 180 kilometer lebih cepat dari gelombang kejut yang dihasilkannya.

Ahli geologi gempa bumi menggambarkan peristiwa itu seperti ledakan sonik dalam gempa bumi. Jean-Paul Ampuero, dari Université Côte d'Azur di Perancis dan salah satu penulis studi, mengatakan gempa terjadi dalam kisaran kecepatan terlarang.

Timnya menemukan bahwa jalur patahan pecah tidak lurus tetapi memiliki dua tikungan besar. Meskipun demikian, hambatan ini tidak mengurangi kecepatan gempa.

"Gempa itu menyebar dengan kecepatan berkelanjutan 4,1 km s-1 dari awal hingga akhir, meskipun tikungan patahan besar," tulis Ampuero dan rekannya dalam studi yang dipublikasikan di Nature Geoscience.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini