Nostalgia, Masih Ada Telepon Umum Koin dan Bis Surat di Solo

Agregasi Solopos, Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 15:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 06 57 2014409 nostalgia-masih-ada-telepon-umum-koin-dan-bis-surat-di-solo-mtaMjHQ35P.jpg Ilustrasi Telepon Umum (Foto: Sindonews)

SOLO - Boks telepon koin tak bergagang menjadi penghuni tunggal di gardu kecil di tepi Jl. Sugiyopranoto, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.

Gardu berwarna biru itu tampak usang. Catnya terkelupas. Kayu bagian bawahnya berlubang, sementara sang atap utuh. Sebuah lampu pijar yang tak lagi menyala mengisi bagian muka.

Menurut salah seorang warga yang tinggal di sekitar, Giyarto, 68, telepon umum itu sudah tidak beroperasi lebih dari satu dekade lalu. Gagangnya raib dan kabelnya diputus.

“Dulu sempat padat sekali, meski enggak lihat banyak yang antre. Koinnya sampai penuh jadi selama beberapa waktu tidak berfungsi. Anak-anak suka iseng menggebrak sampai beberapa koinnya jatuh. Saya tidak ingat kapan telepon koin itu benar-benar tidak beroperasi. Seingat saya sudah lama sekali,” ucapnya saat ditemui Solopos.com, belum lama ini.

Nasib tak jauh berbeda terjadi pada boks telepon koin lain yang tersebar di Kota Solo. Primadona alat komunikasi di era 1980-an hingga 2000-an awal itu kini bak artefak yang merekam perubahan zaman.

Jejak kejayaan itu juga bisa ditengok di kawasan Ngarsopuro, depan SMA Negeri 2 Solo, depan SMP Negeri 1 Solo, dan di depan TK-SD Tripusaka. Kusam, hilang sebagian, dan ditinggalkan. Seluruh sisi kubikel bahkan menjadi sasaran vandalisme.

Bis Surat

Baca Juga: Twitter Bakal Hadirkan Fitur Edit Postingan

“Saya masih ingat saat mengantre sampai 15 menit hanya untuk menelepon selama dua menit. Sebagai perantau, telepon koin sangat membantu karena murah. Rp100 cukup untuk satu menit bicara, meski saya selalu membawa koin minimal Rp1.000,” ucap Bahtiar, mantan anggota staf Humas Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang purna tugas 2016 lalu kepada Solopos.com, Senin.

Sejak 1986, Bahtiar bertolak dari kampung halamannya di Makassar untuk mengadu nasib di Kota Bengawan. Selama masa-masa itu, rasa rindunya kepada keluarga dilampiaskan lewat dering telepon.

Pria kelahiran 1958 itu mengaku menjadi langganan telepon umum di Kantor Telkom Solo di Jl. Mayor Kusmanto. Ia juga sempat menjajal dekade telepon umum menggunakan kartu.

“Paling tidak sepekan sekali [menggunakan telepon koin]. Lalu hadir warung telepon [wartel] yang membuat saya enggak lagi menggunakan telepon koin, sampai keberadaan ponsel,” kisahnya.

Hal yang sama dialami Mayor Haristanto, Presiden Republik Aeng-aeng. Pria kelahiran 1959 itu kerap menggunakan telepon koin untuk janjian dengan rekan kerjanya.

“Anak saya pada 1995 memakai telepon umum untuk menghubungi saya via radio panggil satu arah atau pager. Dia tukar koin di pedagang kaki lima depan sekolah [SD Marsudirini]. Umumnya minta dijemput karena pulang lebih awal,” kisahnya saat berbincang dengan Solopos.com, Senin.

Menghimpun informasi dari berbagai sumber, telepon umum koin mulai diperkenalkan pada 1981. Pada kurun masa 1983-1988 tercatat terpasang sebanyak 5.724 unit.

Telepon umum kartu mulai digunakan pada 1988 yang jumlahnya meningkat menjadi 7.835 unit pada 1993. Hingga pertengahan 2009 Telkom mengklaim telah memasang 39.927 telepon umum koin dan 2.452 telepon umum kartu atau total sekitar 42.379 telepon umum.

Jumlah itu berkurang menjadi 30.000-an unit pada 2011. Nasib sedikit berbeda justru dialami peranti komunikasi yang lebih lawas, yakni bis surat atau kotak pos. Tempat menampung surat yang akan dikirimkan menggunakan perangko itu sampai sekarang masih digunakan.

Di Solo setidaknya setiap satu kelurahan memiliki satu unit bis surat. Bentuknya lebih mencuri perhatian karena berwarna oranye mencolok. Tingginya yang lebih dari satu meter juga tampak kokoh kendati tak luput jadi sasaran vandalisme.

“Sekali dalam beberapa waktu, kami masih mengambil surat yang diposkan lewat bis surat. Perangko kan masih ada, jadi wajar jika masih digunakan. Tapi memang tidak bisa setiap hari. Mayoritas pengirim surat datang sendiri ke kantor pos tanpa melalui bis surat,” terang Wakil Kepala Kantor Pos Besar Solo, Zaenal Alamsyah, Senin.

Zaenal mengakui perkembangan zaman kian menggerus fungsi bis surat. Namun, kata dia, masih banyak hal yang harus disampaikan lewat surat. Itulah mengapa bis surat tetap ada.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, sejumlah bis surat yang masih tampak kokoh di antaranya di Jl. Surya, Kelurahan Purwodiningratan, di Jl. Yosodipuro dekat Monumen Pers, di Jl. Adisucipto dekat simpang empat Fajar Indah, dan di Jl. dr. Soepomo.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini