Ilmuwan Pelopor Istilah 'Pemanasan Global' Tutup Usia

Agregasi VOA, Jurnalis · Selasa 19 Februari 2019 19:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 19 56 2020229 ilmuwan-pelopor-istilah-pemanasan-global-tutup-usia-Mm3LQ9NAaQ.jpg (Foto: KOAA)

JAKARTA - Ilmuwan yang pertama kali mengungkapkan kekhawatiran awal tentang perubahan iklim dan mempopulerkan istilah “Pemanasan Global”, Wallace Smith Broecker meninggal dalam usia 87 tahun, kantor berita Associated Press melaporkan.

Profesor dan peneliti pada Universitas Columbia itu meninggal pada Senin (18/2) di sebuah rumah sakit Kota New York, menurut Kevin Krajick, juru bicara Lamon-Doherty Earth Observatory milik universitas tersebut.

Krajick mengatakan Broecker menderita sakit dalam beberapa bulan terakhir.

Broecker mempopulerkan “pemanasan global” menjadi istilah yang umum digunakan lewat sebuah artikel terbitan 1975 yang memprediksi dengan tepat kenaikan tingkat karbon dioksida pada atmosfer yang akan menyebabkan pemanasan.

Dia kemudian menjadi orang pertama yang mengenali apa yang disebutnya Ocean Conveyor Belt, jaringan arus global yang mempengaruhi segala sesuatu mulai dari suhu udara hingga pola hujan.

“Wally itu unik, brilian dan gigih,” kata Michael Oppenheimer, profesor Universitas Princeton. “Dia tidak tertipu oleh pendinginan pada 1970-an. Dia melihat dengan jelas pemanasan yang belum pernah terjadi sekarang sedang terjadi dan memperjelas pandangannya, bahkan ketika hanya sedikit yang mau mendengarkan”.

Pada Ocean Conveyor Belt, arus air asin yang dingin di Atlantik Utara tenggelam, bekerja seperti pendorong untuk menggerakan arus laut dari dekat Amerika Utara ke Eropa. Air dengan permukaan hangat yang dibawa oleh arus ini membantu menjaga iklim Eropa tetap ramah.

Jika tidak, katanya, Eropa akan menjadi sangat beku dengan suhu musim dingin rata-rata turun 20 derajat Fahrenheit atau lebih dan London akan lebih terasa seperti Spitsbergen di Norwegia yang berjarak 600 mil di utara Lingkaran Arktika.

Pada 1984, Broecker mengatakan kepada sebuah subkomite DPR AS bahwa penumpukan gas rumah kaca memerlukan “upaya nasional baru dan berani yang bertujuan memahami operasi atmosfer, lautan, es dan biosfer terestrial”.

 

Baca juga: Supermoon Bisa Disaksikan di Indonesia, Waspada Pasang Air Laut

“Kita hidup dalam sistem iklim yang dapat berpindah secara tiba-tiba dari suatu keadaan ke keadaan lainnya,” kata Broecker kepada Associated Press pada 1997. Dengan membuang sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer seperti karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil, “kita sedang melakukan percobaan yang dapat memiliki efek yang menghancurkan”.

“Kita bermain dengan binatang buas yang sedang marah – sistem iklim yang telah terbukti sangat sensitif,” katanya.

Broecker menerima Medali Sains Nasional pada 1996. Dia juga anggota Akademi Sains Nasional. Dia juga menjabat sebagai koordinator penelitian untuk Biosfer 2, sebuah lingkungan hidup eksperimental yang berubah menjadi lab penelitian.

Broecker lahir di Chicago pada 1931 dan dibesarkan di pinggiran Kota Oak Park.

Dia bergabung dengan fakultas Columbia pada 1959, menghabiskan sebagian besar waktunya di laboratorium universitas di Palisades, New York. Broecker dikenal di kalangan sains sebagai “Bapak Ilmu Iklim” dan “Dekan Ilmuwan Iklim”.

“Penemuannya sangat mendasar untuk menafsirkan sejarah iklim bumi,” kata Oppenheimer.

“Tidak ada ilmuwan yang selalu dengan semangat mendorong keterlibatan kecuali dia: dia adalah seorang penghasut dalam arti yang baik, bersedia untuk menekan ide-ide yang tidak populer seperti menyebarkan zat pencemar ke arah atas untuk mengimbangi perubahan iklim. Tapi itu selalu merupakan percakapan dua arah, tidak pernah membosankan, selalu mendidik. Saya akan merindukannya,” kata Oppenheimer.

 

Baca juga: Fenomena Supermoon, Malam Ini Bulan Terlihat 14% Lebih Besar

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini