Menkominfo: Satelit Nusantara Satu Belum Cukup untuk Internet Cepat di Indonesia

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Rabu 27 Februari 2019 14:11 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 27 54 2023478 menkominfo-satelit-nusantara-satu-belum-cukup-untuk-internet-cepat-di-indonesia-F6vuThz8st.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengapresiasi peluncuran satelit Nusantara Satu yang meluncur bersama Space X pada 22 Februari 2019. Namun menurut dia, kapasitas Nusantara Satu masih belum cukup dan pemerintah sedang mencanangkan peluncuran satelitnya sendiri yang dijuluki Satria.

"Kalau yang satelitnya pemerintah itu semuanya HTS, sedangkan Nusantara Satu kan itu hanya sebagian kecil yang HTS sisanya masih satelit komunikasi," kata dia saat ditemui di kantor Kominfo di Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan jika pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika, pada kuartal pertama akan menentukan siapa konsorsinya. Menurut dia pembangunan satelit memang bukan hal yang mudah dan membutuhkan waktu yang panjang.

"Ini sudah dua tahun disiapkan, kalau kita bicara bisnis satelit sekarang ini nantinya baru tahun 2026 satelit itu baru ada. Butuh waktu 5 sampai 6 tahun," kata Rudiantara.

 

Rudiantara juga optimis jika satelit akan siap meluncur pada 2022. "Jadi yang namanya sekolah, puskesmas itu bisa lebih cepat dihubungkan dengan broadband," imbuh dia.

Untuk informasi, teknologi HTS (High Throughput Satelite) memang baru di Indonesia, ini mampu untuk menghadirkan internet cepat. Menurut Direktur Utama BAKTI, Anang Latif pertimbangan menggunakan satelit multifungsi ini didasari oleh faktor efisiensi biaya dan cakupan yang luas. Ini dinilai bisa menghemat biaya untuk menghadirkan internet cepat jika menggunakan satelit HTS.

BAKTI menyatakan dengan satelit konvensional, mereka menggelontorkan uang sewa sebesar Rp18 juta untuk setiap megabite per detik (Mbps). Sementara itu, dengan satelit Ku-band, angkanya turun menjadi Rp6 juta per Mbps.

Dengan satelit multifungsi berbiaya per Mbps, dapat menjadi lebih murah yaitu Rp1 juta per Mbps.

"Satelit ini menjawab persoalan konektivitas. Ke depannya kita bisa mendorong sektor konten dan aplikasi," kata Anang.

 

Baca juga: Ramai Investasi Asing Unicorn, Kominfo: Tetap untuk Indonesia

(ahl)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini