Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengamat ICT: Ada Beberapa Hal Penting untuk Masuk ke Society 5.0

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 12 Maret 2019 15:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 12 207 2028904 pengamat-ict-ada-beberapa-hal-penting-untuk-masuk-ke-society-5-0-TJxjbonRv7.jpg (Foto: Pernita Hestin Untari/Okezone)

JAKARTA - Fenomena industri 4.0 semakin digaungkan setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan roadmap implementasi industri 4.0 yang dibuat oleh Kementerian Perindustrian dengan nama Making Indonesia 4.0. Bahkan saat dunia menyoroti revolusi 4.0, Jepang telah bergerak untuk mengusung society 5.0.

Society 5.0 akan sangat bergantung pada AI, robotika, internet of things (IoT) dan big data untuk memberikan keunggulan teknologi yang dibutuhkan Jepang untuk mengatasi masalah penuaan saat ini.

Menanggapi hal tersebut Hasnil Fajri selaku Pakar, Praktisi, Pengamat ICT dan Ekraf mengungkapkan jika Indonesia memerlukan beberapa hal untuk masuk ke ranah tersebut.

"Ada beberapa catatan yang paling penting untuk menuju society 5.0. Pertama harus giat sehingga tidak hanya menjadi mimpi. Selain itu, data center harus diterapkan utamanya oleh unicorn, masalah keamanan atau cyber security juga harus ditingkatkan," kata dia dalam acara Amazing Okezone, di iNews Tower, Selasa (12/3/2019).

 

Lebih lanjut dia juga mengungkapkan sudah ada beberapa teknologi yang diterapkan oleh Indonesia untuk menuju ke sana. Beberapa di antaranya dalam peningkatan broadband intenet yakni fiber optik atau proyek Palaparing yang telah digelar 100 persen. Kemudian, dua satelit yang diluncurkan belum lama ini yakni satelit merah putih dan nusantara satu.

"Ini juga mendukung penerapan internet cepat 5G, bahkan beberapa provider seperti Telkomsel, Xl, dan Indosat Ooredoo telah menguji coba 5G," imbuh Hasnil.

Dia juga melanjutkan bahwa persoalan 5G di dunia memicu adanya perang dagang oleh China dan Amerika. Kemudian, meskipun belum 100 persen diterapkan, jaringan 5G akan beroperasi di beberapa negara tahun ini.

Kemudian, dia juga mengatakan permasalahan penyimpanan data (cloud computing) harus mulai beralih ke Indonesia data centernya. Pasalnya data center sebagian besar berada di luar negeri.

Selain itu, ekosistem dari mulai pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas harus dipersiapkan. Belum lagi pada 2030, Indonesia akan memasuki bonus demografi.

 

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini