Astronom Deteksi Cincin Debu di Jantung Tata Surya

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Jum'at 15 Maret 2019 10:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 14 56 2030123 astronom-deteksi-cincin-debu-di-jantung-tata-surya-vxRF432IY4.jpg (Foto: Mary Pat Hrybyk-Keith/NASA)

JAKARTA - Tata Surya dipenuhi debu dari asteroid dan komet yang hancur, tetapi hanya beberapa planet yang diberi cincin berbintik. Baik Venus dan Bumi dikawal mengelilingi Matahari oleh sekelompok materi kosmik.

Dilansir dari laman Science Alert, sebuah penelitian baru telah mengidentifikasi jejak debu kosmik halus yang sangat besar di orbit Merkurius, membentuk cincin seluas hampir 15 juta kilometer (9,3 juta mil).

Tanpa diketahui, tampaknya Merkurius telah mengarungi lautan materi purba ini, tiga kali lebih besar dari dirinya sendiri, untuk kemungkinan dalam waktu miliaran tahun.

"Orang-orang berpikir bahwa Merkurius, tidak seperti Bumi atau Venus, terlalu kecil dan terlalu dekat dengan Matahari untuk menangkap cincin debu," kata Guillermo Stenborg, seorang ilmuwan di Naval Research Laboratory.

 

"Mereka berharap bahwa angin matahari dan gaya magnet dari Matahari akan meniup debu berlebih pada orbit Merkurius," imbuh dia.

Terlebih, Stenborg dan koleganya, Russell Howard, seorang ilmuwan matahari di lab yang sama, menemukan penemuan mereka secara tidak sengaja. Tim itu benar-benar mencari celah di debu, dekat dengan Matahari.

Dengan semua debu yang menutupi pandangan langsung manusia, para ilmuwan belum dapat menemukan ruang bebas debu antara Bumi dan Matahari.

Satu-satunya petunjuk yang benar-benar dimiliki adalah berbagai jenis cahaya yang manusia dapat lihat. Ketika sinar matahari memantul dari partikel debu di ruang angkasa, ia menciptakan gaya 100 kali lebih terang dari cahaya koronal itu sendiri.

Sebagian besar waktu, para ilmuwan membuang data ini sehingga mereka dapat fokus hanya pada mempelajari korona, tetapi kali ini, para peneliti menyimpannya.

Menggunakan gambar-gambar ruang antarplanet dari satelit Stereo milik NASA, tim membangun sebuah model yang memisahkan kedua jenis cahaya, menghitung berapa banyak debu di sana.

Apa yang mereka perhatikan adalah peningkatan kecerahan yang berputar di sekitar orbit Merkurius, menyiratkan kepadatan debu berlebih sekitar 3 persen hingga 5 persen di pusat cincin.

Howard menjelaskan, "Di sekeliling Matahari, terlepas dari posisi pesawat ruang angkasa, kita bisa melihat peningkatan lima persen yang sama dalam kecerahan debu, atau kepadatan. Itu mengatakan sesuatu ada di sana, dan itu adalah sesuatu yang meluas di sekeliling Matahari".

Hasilnya telah mendorong pemahaman peneliti ke 'tepi jurang'. Karena jika Merkurius benar-benar mengarungi debu kosmik, maka bahan ini harus bisa lebih dekat ke Matahari daripada yang pernah peneliti bayangkan.

Ini, pada gilirannya, memberi para ilmuwan petunjuk penting tentang komposisi dan asal-usul debu itu sendiri.

Awan debu yang mengorbit dapat membantu menjelaskan apa yang terjadi sejak Tata Surya pertama kali terbentuk.

Faktanya, para ilmuwan berpikir bahwa semua planet, termasuk Bumi, berawal sebagai butiran debu belaka sebelum mereka ditarik bersama oleh gravitasi dan gaya lainnya.

"Untuk memodelkan dan secara akurat membaca cincin debu di sekitar bintang-bintang lain, pertama-tama kita harus memahami fisika debu di halaman belakang kita sendiri," kata Kuchner.

Cincin debu besar yang mengitari Venus adalah awal yang baik. Hanya bulan ini, sebuah makalah baru mengklaim telah menemukan sumber sebenarnya dari cincin debu besar Venus, yang terdiri dari biji-bijian tidak lebih besar dari amplas kasar.

Dengan menggunakan lusinan alat pemodelan dan simulasi yang berbeda, para peneliti berpendapat debu itu berasal dari sekelompok asteroid yang sebelumnya tak terlihat yang mengorbit bersama planet ini.

Terlebih lagi, para penulis berpendapat bahwa populasi asteroid yang hancur ini telah memberi makan cincin debu Venus sejak masa bayi Tata Surya.

 

"Tidak setiap hari Anda menemukan sesuatu yang baru di Tata Surya bagian dalam," kata Marc Kuchner, seorang penulis studi Venus dan astrofisikawan di Goddard Space Flight Center NASA.

Baca juga: JAXA dan Toyota Bikin Kendaraan Khusus Melaju di Bulan

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini