Ini Produsen Ponsel yang Paling Produktif dalam 10 Tahun Terakhir

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Jum'at 15 Maret 2019 19:40 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 15 57 2030608 ini-produsen-ponsel-yang-paling-produktif-dalam-10-tahun-terakhir-gqjph1XM9e.jpg (Foto: CNet)

Samsung Kalah pada Vivo sebagai Produsen Terproduktif 2018

Tahun 2018 bisa disebut sebagai periode paling kontraproduktif bagi Samsung jika melihat jumlah model yang dikeluarkan. Hanya ada 24 model baru dari Samsung, termasuk Samsung Galaxy S9 dan S9+. Tapi melihat catatan dari data model ponsel, sebenarnya turunnya produtivitas Samsung ini sudah terekam dari tahun-tahun sebelumnya.

Vivo justru menjadi produsen yang paling aktif membuat model pada tahun 2018. Ada 31 model ponsel dari merek ini. Peningkatan produktivitas ini selaras dengan penetrasi Vivo di ranah marketing. Merek China ini sejak 5 tahun terakhir secara bertahap memperluas ekspansi pasar ke Asia Tenggara, Asia Barat, dan Eropa. Dengan kata lain, Vivo memperbanyak model ponsel agar dapat menyesuaikan kebutuhan di masing-masing area ekspansinya.

2011 Menjadi Tahun Paling Produktif Secara Global

Sebanyak 384 model disodorkan ke pasaran ponsel global pada tahun 2011. Ini adalah jumlah yang paling masif dalam 10 tahun terakhir. Padahal pada tahun itu hanya ada sebelas produsen teratas di industri ini. Penetrasi produsen asal China juga belum begitu lincah.

Menilik catatan The Guardian, tahun 2011 merupakan periode Android mendapat kepopuleran. Banyak model ponsel berbasis Android dipasarkan demi memenuhi kebutuhan konsumen. Tapi di tahun yang sama, International Telecommunication Union (ITU) mencatat permintaan atas model ponsel feature phone juga masih banyak.

Terjadi Perubahan Tren Produksi Sejak 5 Tahun Terakhir

Ada 15 produsen ponsel paling produktif di dunia dengan 2792 model ponsel yang telah dirilis sejak tahun 2009. Rata-rata ada 279 model setiap tahunnya dihadirkan 15 produsen ponsel itu untuk pengguna global.

Namun jumlah keseluruhan yang dibuat dalam kurun 5 tahun belakangan menyusut hingga 414 model. Jika periode 2009-2013 ada 1603 model berbeda, maka dalam 5 tahun ini produsen ponsel hanya menghasilkan 1189 model.

Android Authority dalam artikelnya menenggarai perubahan tren ini karena terjadinya kejenuhan produktivitas dari produsen. Indikatornya, ada banyak model yang nyaris identik antara satu dengan yang lainnya.

Dulu pihak produsen senang meluncurkan begitu banyak model ponsel dalam satu periode karena berbagai pertimbangan. Salah satunya yakni demi meningkatkan penjualan pada segmentasi yang lebih luas.

Pada masa kini perusahaan smartphone tidak lagi berlomba-lomba membuat model produk paling banyak, melainkan lebih menekankan pada efisiensi produksi agar target penjualan dapat dicapai dengan baik.

The Wall Street Journal memuat, Samsung mematangkan rencana untuk mereduksi 25%-30% jumlah model ponsel mulai tahun 2014 demi efisiensi bisnis. Tak hanya Samsung, merek tradisional seperti LG, Motorola dan Nokia juga mengurangi model produk mereka dalam 5 tahun belakangan.

Ada 8 Negara Mendominasi Suplai Ponsel Global

Jika dilihat sekilas, produsen ponsel populer belakangan ini didominasi merek asal China, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Tapi sejatinya ada 8 negara yang menjadi pemasok utama untuk kebutuhan ponsel global dalam 10 tahun terakhir.

Selain 3 negara yang telah disebutkan terdahulu, ada juga merek ponsel yang berasal dari Perancis, Finlandia, Taiwan, Jepang, dan Kanada.

Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan China mewakili Asia sebagai negara paling aktif merilis model ponsel. Perancis dan Finlandia mewakili Eropa, sedangkan Apple, Blackberry, dan Motorola mewakili Amerika. Jika melihat komposisi ini, maka benua Asia dapat dikatakan telah menjadi kiblat produk ponsel masa kini.

Tapi mengapa hanya ada sejumlah negara yang bisa memproduksi ponsel dalam jumlah besar? Cnet dalam ulasannya menyebut bahwa faktor jumlah tenaga kerja cukup krusial dalam produktivitas produsen ponsel. Tidak semua negara memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk melakukan kerja manufaktur seperti di industri ponsel.

 

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini