Komodo Miliki Darah Mengandung Peptida Antimikroba, Jadi Incaran Penyelundup

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 04 April 2019 10:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 03 56 2038682 komodo-miliki-darah-mengandung-peptida-antimikroba-jadi-incaran-penyelundup-ZvkZMnqQTA.jpg Komodo (Foto: Washington Post)

JAKARTA- Gubernur Nusa Tenggara Timur, NTT, Viktor Laiskodat berencana untuk menutup Pulau Komodo pada Januari 2020 selama setahun. Keputusan ini didorong oleh berita baru-baru ini tentang pencurian dan penyelundupan Komodo ke luar negeri.

Kabarnya Komodo dijual kepada mereka yang ingin menggunakannya untuk membuat obat antibiotik. Dilansir dari laman Washington Post, Kamis (4/4/2019) menilik lebih dalam Komodo memang telah ada selama ratusan tahun. Sebagian alasan komodo telah hidup lebih lama dari spesies lain karena gigitannya yang sangat berbisa, yang sangat beracun bahkan satu gigitan pun bisa berakibat kematian.

Komodo

Baca Juga: NASA Berencana Kirim Astronot ke Mars pada 2033

Hewan ini juga memiliki sifat unik lain darah mereka dikemas dengan peptida antimikroba yang mampu menjadi pertahanan bawaan terhadap infeksi yang dihasilkan oleh semua makhluk hidup. Ini membuat komodo kebal terhadap gigitan komodo lainnya. Komponen sistem imun ini lah yang kabarnya menarik penjualan Komodo.

Beberapa ilmuwan juga percaya peptida ini dapat dimanfaatkan menjadi antibiotik untuk melindungi manusia. Tetapi Bryan Fry, seorang associate professor di sekolah sains biologi Universitas Queensland, mengatakan bahwa proses menjadikannya anti biotik ini lebih rumit dan kurang masuk akal.

Tidak cukup diketahui tentang senyawa kimia yang digunakan komodo untuk melawan infeksi, dan menggunakan darah mereka secara langsung tidak akan berguna dalam mengobati infeksi manusia, Fry menjelaskan memurnikan senyawa dalam darah mereka akan sulit dan bahkan kemudian akan ada kemungkinan reaksi alergi yang hebat akan sangat tinggi.

Baca Juga: Peneliti Temukan Petunjuk Baru Keberadaan Air di Mars

"Mengubah ini menjadi produk farmasi akan membutuhkan bertahun-tahun penelitian laboratorium untuk menghasilkan analog sintetik berukuran kecil. Senyawa alami itu besar dan akan menerangi sistem kekebalan tubuh kita, namun memberikan respons alergi yang hebat setelah digunakan berulang kali," kata Fry.

Dia melanjutkan, "Jika ini sebenarnya yang memicu perdagangan, itu berada di tanah fantasi yang sama merusaknya dengan selera orang Asia terhadap tanduk Badak sebagai afrodisiak."

Crawford Allan, direktur senior dan pakar perdagangan satwa liar dengan World Wildlife Foundation mengatakan Komodo secara historis dicari oleh pengumpul kaya yang menargetkan binatang unik, langka, dan istimewa. Ia mengutip sebuah kasus 2002 di mana Komodo dijual sekitar USD30.000 atau Rp435 juta.

“Orang-orang memiliki uang untuk membayar jaringan kejahatan terorganisir untuk bekerja melalui mencuri dan menyelundupkan hewan-hewan berbahaya, dan membawa mereka ke pasar,” kata Allan.

Komodo

Baca Juga: Astronom Temukan Dua Planet Baru Berkat Teknologi AI

Beberapa laporan menunjukkan ada sekitar 6.000 Komodo tersisa dan kurang dari 500 di antaranya adalah betina yang mampu berkembang biak. Menjual hewan untuk diperdagangkan dapat memiliki dampak besar pada populasi mereka, terutama jika betina reproduktif yang dijual.

Belum lagi jika perminataan penggunaan obat antibiotik yang didapat dari Komodo meningkat, maka akan mendorong mereka untuk punah dengan sangat cepat, karena permintaan obat itu pasti dapat melonjak.

Menurut Allan, mematikan Pulau Komodo untuk melindungi bisa menjadi ide yang bijaksana. Namun dia dan Fry sama-sama menyatakan keprihatinan atas hilangnya satu tahun dana pariwisata, dan bagaimana hal itu dapat berdampak pada ekonomi lokal terutama orang-orang yang pendapatannya tergantung pada pengunjung pulau itu.

The Smithsonian memperkirakan sekitar 18.000 orang melakukan perjalanan wisata ke pulau setiap tahun untuk melihat Komodo.

 Komodo

 Baca Juga: NASA Hubble Tangkap Asteroid yang Berputar Cepat

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini