2019 Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah, Ini Alasannya

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 04 April 2019 18:49 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 04 56 2039131 2019-jadi-tahun-terpanas-sepanjang-sejarah-ini-alasannya-A26RoSaVW1.jpg Ilustrasi Bumi yang Panas (Foto: Earth)

JAKARTA - Belakangan ini cuaca panas yang menyengat mungkin dirasakan penduduk Bumi. Hal tersebut kabarnya disebabkan oleh peristiwa El Nino yang mungkin terjadi.

Dilansir dari laman National Geographic, Kamis (4/4/2019) tahun lalu para ilmuwan juga telah memprediksi jika El Nino memperkuat cuaca ekstrem yang diperburuk oleh perubahan iklim dan meningkatkan peluang tahun terpanas dalam sejarah manusia pada 2019.

Dalam beberapa tahun terakhir dampak El Nino memang menjadi lebih parah karena adanya pemanasan global. Kemudian, dampak ini akan lebih buruk lagi karena suhu akan terus meningkat menurut sebuah studi baru-baru ini dalam jurnal Geophysical Research Letters.

“Dengan El Nino, sangat mungkin 2019 akan menjadi tahun terpanas,” kata Samantha Stevenson , seorang ilmuwan iklim di University of California, Santa Barbara.

Tidak hanya El Nino, cuaca panas ini juga didorong oleh peningkatan emisi karbon dioksida (Co2) selama empat tahun terakhir.

Belum lagi, iklim di Bumi memang lebih hangat dari rata-rata abad ke-20 selama 406 bulan terakhir berturut-turut. Itu berarti tidak ada seorang pun di bawah usia 32 yang pernah mengalami bulan yang lebih dingin dari rata-rata.

 Global Warming

Baca Juga: Aplikasi 'Laut Nusantara' XL Axiata-BROL Berbasis Data dari Satelit Khusus

"Setiap bagian dari tingkat pemanasan membuat perbedaan bagi kesehatan manusia dan akses ke makanan dan air tawar, ke kepunahan hewan dan tumbuhan, untuk kelangsungan hidup terumbu karang dan kehidupan laut," kata Wakil Sekretaris Jenderal WMO Elena Manaenkova.

Dunia yang lebih hangat berarti semakin ekstrem dalam cuaca yang merusak dan berbahaya, seperti gelombang panas, kebakaran hutan, kekeringan, banjir, dan badai dahsyat. Ada 70 topan tropis atau badai di belahan Bumi utara pada 2018.

WMO juga mencatat beberapa badai yang kuat telah terjadi di Kepulauan Mariana, Filipina, Vietnam, Korea, dan Tonga. Di AS, badai Florence dan Michael menyebabkan kerusakan ekonomi yang sangat besar dan hilangnya banyak nyawa.

Menurut laporan 2018 dari Lancet Countdown kesehatan dan perubahan iklim yang dirilis 28 November 2018, gelombang panas mengakibatkan hilangnya produktivitas yang luar biasa pada 2018.

Sebanyak 153 miliar jam kerja yang luar biasa dihapuskan tahun lalu karena gelombang panas, hampir tiga kali lebih banyak dari 2000.

 Ilustrasi

Baca Juga: Astronom Berhasil Tangkap Foto Lubang Hitam

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini