Data Pengguna Bocor, Ini Tips Amankan Akun Facebook Anda

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Jum'at 05 April 2019 18:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 05 207 2039592 data-pengguna-bocor-ini-tips-amankan-akun-facebook-anda-lgosO7AbrM.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Facebook baru-baru ini tampak menjadi sorotan terkait masalah kebocoran data. Seperti diketahui, jejaring sosial ini telah menghadapi kasus Cambridge Analytica pada tahun lalu dan terkini perusahaan dikabarkan mengalami kebocoran data sebanyak 540 juta data pengguna.

Menurut Chairman Communication Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, mengamankan password media sosial menjadi hal penting dewasa ini. Facebook mengakui telah menyimpan sekira 600 juta password pengguna berbentuk teks utuh (plain text) alias tidak dienkripsi selama bertahun-tahun.

Celah keamanan tersebut pertama kali ditemukan oleh jurnalis keamanan siber, Brian Krebs. Dengan password yang terbuka tersebut, memungkinkan karyawan Facebook untuk melihat dan mengaksesnya. Sementara Facebook sendiri baru mengakuinya beberapa bulan kemudian, setelah Krebs melaporkan sistem log berpotensi diakses oleh para teknisi dan pengembang Facebook.

Krebs mengutip seorang karyawan senior Facebook mengungkapkan bahwa kata sandi tidak terenkripsi tersebut sudah sejak 2012. Jadi data tersebut telah terbuka kurang lebih selama tujuh tahun.

 

Sementara Facebook mengklaim bahwa jutaan kata sandi penggunanya tidak diakses oleh pihak di luar perusahaan. Selain itu Facebook telah menerapkan sejumlah langkah untuk menyamarkan kata sandi menggunakan fitur "Scrypt" dan kunci kriptografik untuk mengganti kata sandi pengguna dengan huruf acak. Facebook juga berjanji akan memberi tahu seluruh pengguna yang kata sandinya disimpan dalam teks biasa.

Pratama Persadha mengungkapkan kasus ini jelas mencoreng nama Facebook. Sekaligus menjadi peringatan bahwa tidak ada sistem yang aman, sehingga sebaiknya para pengguna medsos dan platform lainnya untuk berkala mengganti password.

“Mungkin ini bisa disebut sebagai skandal Facebook yang benar-benar besar. 600 juta pengguna bukan angka yang dibilang sedikit. Sebelumnya Facebook juga bermasalah lewat skandal Cambridge Analytica," kata Pratama.

Ditambahkan olehnya, selain berkala mengganti password pengguna FB dan platform lainnya juga harus menghidupkan otentikasi dua langkah. Ini adalah fitur keamanan ekstra yang dimiliki oleh hampir semua penyedia layanan media sosial. Fitur ini mewajibkan orang yang mengakses akun media sosial dari gawai baru harus memasukkan beberapa nomor yang dikirim ke SMS pemilik akun.

“Salah satu langkah paling penting adalah mematikan akses pihak ketiga ke medsos kita. Di FB dan Twitter sering kita memberikan akses ke pihak ketiga seperti kuis dan layanan aplikasi lainnya. Kasus Cambridge Analytica bermula dari aplikasi pihak ketiga,” terangnya.

Peretasan Akun Twitter dan WA

Sedikit banyak pengamanan akun ini juga penting dalam masa kampanye pilpres yang tinggal beberapa hari lagi. Seperti diketahui beberapa akun Twitter selebritis politik Tanah Air diretas dan banyak memposting gambar yang tidak senonoh.

“Langkah yang dilakukan sama seperti di FB, lakukan otentikasi dua langkah lalu matikan layanan pihak ketiga seperti game dan aplikasi. Semakin populer artinya semakin besar kemungkinan menjadi target peretasan oleh siapapun,” terang pria asal Cepu, jawa Tengah ini.

Pratama menjelaskan, bila jelas milik politisi atau selebritis yang dikenal luas oleh publik, seharusnya platform bersangkutan dalam hal ini Twitter maupun Instagram bisa mengembalikan ke pemiliknya.

Publik juga dikejutkan oleh pengakuan beberapa politisi yang mengaku nomor WhatsApp-nya diambil orang lain. Praktek ini diakui Pratama sangat mungkin terjadi dengan kondisi keamanan siber Indonesia yang masih rentan. Kloning nomor WA pastinya diawali oleh kloning simcard.

“Untuk mengamankan Whatsapp sama seperti medsos, aktifkan otentikasi dua langkah di setting keamanan. Jadi secara berkala WhatsApp akan meminta beberapa digit nomor untuk masuk ke aplikasi. Paling penting bila dikloning, langsung lapor provider, karena nomor kita telah terdaftar dengan NIK dan KK, jadi bisa langsung dimatikan dan WA diambil alih,” terangnya.

 

Yang patut diwaspadai adalah saat WA diambi lalih orang, lalu orang tersebut segera mengganti nomor WA tersebut, artinya pengguna kehilangan sama sekali akses ke WA yang lama. Bahkan bila nomor dikembalikan oleh provider sekalipun. Kewaspadaan juga harus ditingkatkan di smartphone, agar terbebas dari malware yang bisa mengambil alih gawai pengguna.

Baca juga: Peneliti Temukan 540 Juta Data Pengguna Facebook Bocor

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini