Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Intip Perkembangan Media dan Tren Baru Masyarakat Digital

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Senin 15 April 2019 13:57 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 15 207 2043698 intip-perkembangan-media-dan-tren-baru-masyarakat-digital-RRH6nplPVc.jpg Ilustrasi (Foto: Sites.tcs.com)

JAKARTA - Seiring berkembangnya teknologi informasi dari tahun ke tahun, maka hal ini memunculkan peluang baru, termasuk munculnya media online. Media digital dinilai semakin tumbuh, berbanding terbalik dengan media lama seperti media cetak.

Melalui keterangan resmi yang diterima Okezone, Senin (15/4/2019), konsultan bisnis PwC dalam laporan “Perspective from the Global Entertainment and Media Outlook 2017” menyebutkan bahwa laju global pertumbuhan koran dalam lima tahun ke depan adalah minus 8,3 persen.

Ini angka terendah karena prediksi untuk media massa konvensional lainnya (majalah, radio, televisi, dan buku) juga mengalami pertumbuhan minus pada 3,4-6 persen saja. Di sisi lain, PwC memprediksi media berbasis internet tumbuh 0,5 sampai 6 persen.

Fenomena stagnansi hingga penurunan global media cetak dan koran yang terjadi di Eropa dan Amerika sejak 2009, makin nyata terjadi di Indonesia sejak 2015 hingga 2017 ini. Hal ini bisa terlihat dari penutupan parsial atau total sejumlah media cetak bahkan dari kelompok media besar.

 

Sementara data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan kenaikan jumlah pengguna internet di Indonesia. Dalam 15 tahun terakhir (2002 – 2017) terjadi kenaikan pengakses internet dari 4,5 juta warganet menjadi 145 juta warganet. Ada yang menarik dari kebiasaan warganet itu dengan merujuk data APJII 2016. Yakni, motivasi warganet Indonesia dalam mengakses internet (dalam jawaban terbukanya) yang tertinggi ternyata bukan akses media massa daring atau berita, melainkan media sosial dan mencari hiburan.

Data yang dipaparkan Reuters Institute, 51 persen responden mengaku memanfaatkan media sosial sebagai sumber berita. Portal berita tak lagi dilirik sebagai sumber utama informasi mereka, dengan angka 12 persen responden menyatakan media sosial sebagai sumber utama mereka dalam mendapatkan berita.

Dari sumber yang sama juga mengungkap bahwa anak muda merupakan generasi yang mengandalkan media sosial sebagai tempat utama memperoleh berita dibandingkan media konvensional seperti televisi. Terdapat 28 persen anak muda berusia 18 hingga 24 tahun yang mengungkapkan bahwa media sosial lebih utama sebagai sumber berita dibandingkan televisi yang hanya memperoleh 24 persen.

Selain media sosial, aplikasi pengumpul berita atau news aggregator juga berkembang cukup pesat sebagai wadah masyarakat memperoleh berita. Perilaku orang memperoleh informasi pun berubah.

Menurut Reuters Institute, 36 persen responden mengaku membaca berita karena direkomendasikan secara otomatis oleh mesin yang bekerja di belakang platform. Kabarnya, cara ini menghasilkan persentase pembaca berita lebih tinggi dibanding konten-konten yang direkomendasikan oleh jurnalis atau editor.

Konten dari news aggregator dimoderasi dan berasal dari sumber terpercaya. Selain itu, teknologi kecerdasan buatan yang ada di belakang platform news aggregator akan mengirimkan informasi berdasarkan minat warganet.

 

Baca juga: 5 Ponsel Terpopuler dari Galaxy A80 hingga Redmi Note 7

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini