Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Teknologi E-voting Cegah Manipulasi Data saat Pemilu

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 23 April 2019 14:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 23 56 2046971 teknologi-e-voting-cegah-manipulasi-data-saat-pemilu-g6Bz3IETdS.jpg (Foto: BPPT)

JAKARTA - Tak bisa dipungkiri masyarakat sekarang ini sudah semakin melek teknologi. Dalam keterangan resmi yang diterima Okezone, Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK-BPPT), Michael A. Purwoadi mengungkapkan jika tampaknya masyarakat mulai jenuh dengan pemilihan suara yang belakangan ini berpotensi dimanipulasi.

Sehingga kehadiran e-voting layak menjadi sebuah metode yang patut diterapkan. Meskipun demikian, dalam penyelenggaraan e-voting pasti akan terjadi pro dan kontra.

“Teknologi e-voting menjamin berlangsungnya pemungutan suara dan perhitungan menggunakan TIK demi Pemilu yang transparan, jujur dan akuntabel serta dapat diaudit di tiap tahapannya, layak dijadikan metode yang tepat untuk melaksanakan pemilu,” jelas Purwoadi.

Mengenai konsep e-voting Purwoadi menuturkan bahwa secara prinsip, sistem pemilihan elektronik itu menghilangkan teknis manual pada sistem pemilihan konvensional, seperti surat suara dan perhitungan manual serta rekapitulasi otomatis dan berjenjang.

 

Kemudian sistem pemilihan dan pemungutan elektronik mempunyai lima unsur perangkat, yaitu pembaca KTP-el, generator kartu V-token, pembaca kartu pintar, e-voting, dan printer kertas struk.

Hasil perhitungan suara elektronik juga bisa langsung diperoleh begitu waktu pemungutan suara ditutup. Purwoadi menambahkan, hasil rekapitulasi juga bisa langsung dikirim ke pusat data di tingkat desa. Setelah hasil perhitungan perolehan suara TPS dicetak, langsung dikirim ke pusat data dan terekapitulasi secara otomatis dan berjenjang mulai dari desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional.

"Jadi, ini selain quick count juga real count. Cepat dan akurat serta terverifikasi," jelasnya.

Hasil hitung cepat ini disebut Purwoadi sebagai e-rekapitulasi di mana pihaknya juga beberapa saat lalu berusaha meyakinkan lembaga penyelenggara Pemilu untuk menggunakan Pemilu ini demi meningkatkan kualitas Pemilu di Indonesia, manakala KPU masih menerapkan pemungutan suara manual.

Form C1.plano difoto dan dikirim langsung dari TPS oleh KPPS dengan dibubuhi tanda tangan elektronik KPPS yang mengirim sebagai pemenuhan atas dokumen elektronik yang sah secara hukum untuk mendukung proses sengketa hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi.

“Ke depan ya ini kita harus berpikir untuk menyajikan data yang cepat, akurat transparan dan akuntabel. Saya yakin teknologi informasi dan komunikasi dapat mewujudkan ini,” ujarnya.

“Kita sampai saat ini bisa perhatikan mulai dari Pemilu 2009, 2014, hingga 2019 ini dengan hitung konvensional hampir sebulan hasilnya baru diumumkan. Sebab itu BPPT akan terus berusaha mengedepankan wacana penggunaan e-rekapitulasi ini untuk kedepannya,” katanya.

E-rekapitulasi, menurutnya juga merupakan pilihan yang inovatif dan sangat penting dalam melaksanakan salah satu pilar demokrasi yang berkualitas, yang diharapkan mampu mencegah aspek manipulasi data. Teknologi ini juga bisa ditelusuri sumber kesalahannya, sehingga diklaim tetap menjamin pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

“e-rekapitulasi adalah bagian proses yang paling penting dari e-voting. Tepatnya yaitu proses pengolahan, pengiriman dan penayangan hasil rekapitulasi perolehan suara pemilu di tiap tempat pemungutan suara, serta menghasilkan jejak audit,” jelasnya.

Purwoadi lalu menyatakan bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai kajian dan mempraktekan pemilihan umum secara elektronik di lebih dari 900 pilkades di mana secara hasil dan bukti pelaksanaan Pemilu dengan eVoting dan hasilnya bisa cepat keluar pada saat TPS tutup.

 

Baca juga: Ini Cara Mudah Pantau Real Count Pemilu 2019 via Smartphone

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini