Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Langkah Pelaksanaan E-voting untuk Pemilu di Indonesia

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 23 April 2019 16:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 23 56 2047049 ini-langkah-pelaksanaan-e-voting-untuk-pemilu-di-indonesia-egFflqAdi5.jpg (Foto: iStock/actu.epfl.ch)

JAKARTA - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza menuturkan bahwa Indonesia perlu melakukan transformasi digital terhadap penyelenggaraan Pemilu di Indonesia.

"Kita ke depan perlu melakukan transformasi Pemilu secara digital. Agar luber jurdil cerat (cepat dan akurat)," kata Hammam dalam keterangan resmi yang diterima Okezone, Selasa (23/4/2019).

Menurut dia digitalisasi dalam Pemilu ini membutuhkan kematangan leadership dan sinergi seluruh pemangku kepentingan.

"KPU, Bawaslu, Parpol hingga peserta kontestasi pemilu harus bersinergi demi transformasi pelaksanaan Pemilu yang lebih baik. Jadilah kita transformational leaders, demi demokrasi yang lebih baik ke depan," katanya.

Pihaknya juga telah melakukan pemilihan umum secara elektronik di lebih dari 900 pilkades di mana secara hasil dan bukti pelaksanaan Pemilu dengan eVoting dan hasilnya bisa cepat keluar pada saat TPS tutup.

 

Lebih lanjut mengenai penerapan eVoting dan eVerifikasi pemilih, Kepala Program Pemilu Elektronik BPPT Andrari Grahitandaru menjelaskan, cara pemungutan suara dengan metode evoting, berikut penjelasannya:

1. Pemilih harus membawa KTP-el diverifikasi dengan pembaca KTP-el untuk memastikan kesesuaian data KTP-el dengan pemilih.

2. Setelah data sesuai, otomatis sistem eVerifikasi menyatakan status HADIR jika nama tersebut ada dalam DPT, atau sistem menolak jika pemilih tidak ada dalam DPT. Sistem eVerifikasi ini sekaligus berfungsi sebagai catatan absensi/kehadiran pemilih atau Form C7 di pemilu.

3. Jika lolos dari eVerifikasi pemilih tersebut, pemilih diberikan V-token. Kartu ini berfungsi sebagai untuk mengaktifkan perangkat e-voting.

4. V-token kemudian dimasukkan ke pembaca smartcard agar menampilkan SATU surat suara elektronik.

5. Pemilih bisa memilih dengan cara menyentuh gambar/nomer salah satu calon. Sistem akan memberi notifikasi 'YA' atau 'TIDAK' atas pilihan yang dimaksud. Jika sudah yakin, pemilih harus menekan 'YA". Pada tahap ini, pemilih bisa menyentuh pilihan 'TIDAK' jika ingin mengubah pilihan.

6. Setelah menentukan pilihan, printer mencetak struk audit dan pemilih mengambil kertas struk yang berupa kertas barcode. Ini sebagai bukti pemilih sudah memilih.

7. Kertas struk kemudian dimasukkan ke kotak audit. Fungsinya sebagai data pembanding jika terdapat sengketa jumlah pemilih yang memberikan suara.

Menurut Andrari, pemilihan dengan sistem elektronik ini berlangsung dalam waktu lebih singkat. Pemilih cukup membawa kartu tanda penduduk elektronik, yang kemudian akan divalidasi alat pembaca KTP-el.

Identitas pemilih akan dikonfirmasi dengan sidik jari pemilik KTP-el. Setelah itu, akan keluar kartu cip khusus berwarna putih sebagai penanda aktivasi seseorang dapat melaksanakan pemilihan. Terkait warga yang belum memiliki KTP-el, disebutnya akan divalidasi secara manual menggunakan foto yang ada dalam aplikasi DPT.

Selain pemilihan yang berlangsung cepat, Andrari pun memastikan bahwa proses penghitungan suara juga dengan sistem Pemilu elektronik, akan berlangsung lebih cepat dan akurat.

“Hasil perolehan suara di TPS langsung terkirim ke website Komisi Pemilihan Umum. Semoga kedepan sistem Pemilu elektronik dapat digunakan dalam pemilu, meski tak dalam waktu dekat,” pungkasnya. Proses ini sangat aman karena selama proses pemungutan tidak tersambung ke jaringan apapun atau offline.

Ketika hasil perhitungan sudah keluar dan tercetak, baru dikoneksikan dengan jaringan komunikasi untuk pengiriman hasilnya saja langsung ke pusat data, dan tidak ada campur tangan manusia karena terkirim langsung dari perangkat eVoting.

 

Baca juga: Teknologi E-voting Cegah Manipulasi Data saat Pemilu

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini