Pakar Keamanan Siber Sarankan Pengguna Segera Update Aplikasi WhatsApp

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Rabu 15 Mei 2019 14:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 15 207 2055993 pakar-keamanan-siber-sarankan-pengguna-segera-update-aplikasi-whatsapp-juHYq1Zdp5.jpg Ilustrasi WhatsApp (Foto: Time Magazine)

JAKARTA - WhatsApp menjadi pusat perhatian saat ini karena isu spyware. Sejak Senin perusahaan dikejutkan tentang kerawanan pada sistemnya dimanfaatkan oleh salah satu spyware dari Israel yang dibuat oleh perusahaan NSO.

Spyware masuk lewat fitur call pada WA itu efeknya sangat parah, bisa mengambil alih operating sistem pada Android maupun iPhone.

"Yang bisa segera dilakukan adalah melakukan update segera," kata Pakar Keamanan Siber, Pratama Persadha, sekaligus Chairman Communication and Information System Security Research Center (CISSReC).

Tim WhatsApp sudah melakukan update untuk menutupi celah keamanan tersebut. Update sudah tersedia di platform iOS dan Android. WhatsApp yang berada di bawah Facebook menambah satu lagi masalah keamanan perusahaan teknologi milik Mark Zuckerberg. Sebelumnya FB berkali-kali bermasalah dengan isu keamanan, yang paling ramain adalah kasus Cambridge Analytica.

 Kata pengamat soal kasus serangan siber WhatsApp

Baca Juga: Fitur Enkripsi End-to-end WhatsApp Hanya Gimmick?

Namun kasus saat ini berbeda, karena WhatsApp yang menjamin kerahasiaan pesan dan telefon dengan enkripsi sudah menjadi standar komunikasi yang aman di berbagai negara, bahkan juga di Indonesia. Diketahui banyak komunikasi dan keputusan pejabat negara diputuskan lewat grup WhatsApp.

"Yang berbahaya dari spyware ini adalah bahwa akibatnya tidak hanya mencuri data percakapan tetapi mengambil alih operating system. Software serupa sebenarnya ada, namun software dari NSO Israel ini powerful karena konon bisa menginfeksi saat korban mengangkat telefon WhatsApp dari nomor penyerangnya," kata Pratama.

Amnesti Internasional bergerak cepat dengan rencana menuntut kasus ini ke pengadilan. Adalah Kementerian Pertahanan Isarel yang akan ditarget sebagai pihak tergugat. Amnesti Internasional melihat tindakan pemerintah Israel membiarkan NSO menjual dan menyebarkan software berbahaya ini sebagai tindakan melawan hak asasi manusia.

Baca Juga: Pakai Enkripsi End-to-end WhatsApp Tetap Kebobolan Hacker, Kok Bisa?

(ahl)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini