Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Google dan Facebook Bisa Telusuri Porn History Pengguna

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Minggu 21 Juli 2019 14:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 21 207 2081677 google-dan-facebook-bisa-telusuri-porn-history-pengguna-4qZIo2z358.jpg (Foto: BBC)

JAKARTA - Google dan Facebook bisa menelusuri atau melacak konten pornografi yang diakses oleh pengguna. Hal ini terungkap berdasarkan studi baru yang ditemukan oleh The New York Times.

Dilansir 9gag, Minggu (21/7/2019), peneliti di Microsoft, Carnegie Mellon University dan University of Pennsylvania menganalisis 22.484 situs porno dan menemukan bahwa 93 persen data pengguna bocor ke pihak ketiga.

Untuk proteksi ekstra ketika berselancar di web, seorang pengguna mungkin mengaktifkan modus incognito. Akan tetapi, menurut peneliti, modus incognito hanya memastikan bahwa browsing history Anda tidak tersimpan di komputer Anda, tetapi data masih ada ke pihak ketiga.

Menurut studi, Google merupakan perusahaan pihak ketiga nomor 1. Penelitian menemukan bahwa Google atau satu dari anak perusahaannya seperti platform iklan DoubleClick telah menelusuri pada 74 persen dari situs pornografi. Sementara Facebook telah menelusuri pada 10 persen dari situs.

 Google dan Facebook bisa menelusuri atau melacak konten pornografi yang diakses oleh pengguna.

"Di AS, banyak platform iklan dan hosting video melarang konten 'dewasa'. Misalnya, Google YouTube adalah host video terbesar di dunia, tetapi tidak mengizinkan pornografi. Namun, Google tidak memiliki kebijakan yang melarang situs web menggunakan hosting kode mereka (Google APIs) atau alat pengukuran audiens (Google Analytics)," tulis peneliti.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, Google menolak untuk menjadi tuan rumah pornografi, tetapi tidak memiliki batasan untuk mengamati konsumsi porno pengguna, seringkali tanpa sepengetahuan mereka.

Pelacak dapat ditempatkan di situs karena berbagai alasan. Google Analytics, misalnya, memasukkan data lalu lintas kembali ke situs web sehingga mereka dapat memantau lalu lintas mereka.

Facebook menawarkan situs kemampuan untuk menanamkan fitur "like"-nya, memungkinkan berbagi kembali ke Facebook. Sebagai imbalannya, mereka menerima data tentang pengunjung situs web. Apa yang sebenarnya terjadi pada data, atau data mana yang sedang dikumpulkan, sulit untuk diteliti.

Facebook dan Google mengatakan mereka tidak menggunakan informasi yang dikumpulkan dari kunjungan situs porno untuk membangun profil pemasaran.

 Google dan Facebook bisa menelusuri atau melacak konten pornografi yang diakses oleh pengguna.

Baca juga: Soal Privasi, FaceApp Dinilai Lebih Baik Ketimbang Facebook & Google

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini