Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

SAFEnet Ungkap Tiga Jenis Pelanggaran Privasi Terkait Data Pribadi

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Jum'at 02 Agustus 2019 06:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 01 207 2086603 safenet-ungkap-tiga-jenis-pelanggaran-privasi-terkait-data-pribadi-YGuBxCred4.jpg (Foto: Pernita Hestin Untari/Okezone)

JAKARTA - Dengan berkembangnya teknologi internet saat ini, praktek pencurian data pribadi menjadi salah satu isu rawan yang perlu diperhatikan. Seperti diketahui, baru-baru ini ramai kasus jual beli data NIK dan KK di Facebook.

Menanggapi hal tersebut, Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFENet), sebuah jaringan relawan kebebasan ekspresi di Asia Tenggara melalui Direktur Eksekutif, Damar Juniarto mengatakan jika pelanggaran privasi yang berkaitan dengan data pribadi terdapat tiga pola.

"Pertama yang berkaitan dengan ekonomi, misalnya jual beli ilegal. Kedua, yang berkaitan dengan politik jadi ekspos data pribadi tapi tujuannya politis. Misal lawan politik dibuka datanya, itu kan sebenernya pelanggaran data pribadi bentuknya doxing. Atau yang ketiga yang kita lihat sebagai sebuah aspek ancaman jadi membuka data pribadi tapi targetnya adalah membuat orang itu merasa takut," kata Damar dalam Diskusi Publik di Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Lebih lanjut, Damar mengatakan jika tiga pola tersebut sudah diidentifikasi sejak 2017. Namun menurut dia ada beberapa temuan bentuk ekonomi baru, seperti pada kasus penjualan NIK dan KK yang diungkap Christian Samuel Hendrawan atau akun Twitter @hendralm.

Damar juga menyebutkan jika peluang ekonominya dari pelanggaran semacam ini sangat besar.

"Jadi kalau lihat gambarannya dengan modal, kalau dari Hendra temuannya satu KK dihargai Rp5 ribu. Kalau dia bisa tembus ke Akulaku satu yang tembus itu peluang bisa dapet 1 juta ya dia tinggal kali berapa aja dia dapet. Sebetulnya peluang ekonominya besar, lalu yang kedua misal OVO Promium dijualnya Rp50 ribu, akan tetapi modal sebenarnya Rp0 karena kan dia ambil comot data-datanya jadi sebenernya ada keuntungan dari kelompok-kelompok ini," kata Damar.

Dia melanjutkan jika sebaiknya pelaku swasta maupun di luar itu perlu bikin mekanisme yang jelas tentang bagaimana model verifikasi.

"Sekarang ini sepertinya tidak cukup hanya NIK dan KK, karena keduanya gampang jebol mungkin harus dikombinasi dengan biometrik atau yang lain, sehingga datanya aman," kata Damar.

 Kasus jual beli data NIK dan KK ini sudah terjadi selama bertahun-tahun.

Baca juga: Terungkap Bermacam Modus Pelaku Curi Data Pribadi NIK dan KK

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini