Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketua ICSF Imbau Masyarakat Waspada dalam Menggunakan Smartphone

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Jum'at 02 Agustus 2019 08:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 01 207 2086615 ketua-icsf-imbau-masyarakat-waspada-dalam-menggunakan-smartphone-Fq0iNJSyBm.jpg (Foto: India Today)

JAKARTA - Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja mengimbau masyarakat untuk memiliki kewaspadaan dalam menggunakan smartphone. Pasalnya data pribadi pengguna bisa saja diambil oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.

Selain itu dengan banyaknya aplikasi saat ini juga menurut dia seseorang harus lebih teliti dalam mengunduh dan selalu membaca syarat dan ketentuan dalam aplikasi.

"Jangan buta sekali, kesadaran masyarakat akan hak dan kewajiban dirangsang untuk memiliki kewaspadaan. Kita kan masuk ke suatu aplikasi itu tidak ada paksaan jika ada pilihan itu secara sukarela. Biasanya masyarakat syarat privasi masing-masing yang tertulis tidak dibaca seperti biasanya, siapa yang mengawasi dan yang mereka tulis itu dipenuhi. Tidak ada yang bisa memastikan, teknologi yang dipergunakan itu aman," kata Ardi dalam Diskusi Publik di Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Dia menyebutkan jika kepekaan antar lingkungan itu juga berlaku di dunia teknologi (IT).

"Jumlah aplikasi itu deras sekali yang masuk ke pasar. Jadi sebenarnya kalau bicara tips itu banyak sekali kesadaran harus waspada ada pilihan kita dan tanggung jawab. Kejahatan dunia maya akan semakin meningkat seiring dengan pengetahuan masyarakat yang tidak berkembang," kata dia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif SAFEnet Damar Juniarto mengatakan jika banyak pihak, Pemerintah, dan masyarakat juga harus mendorong RUU Perlindungan Data Pribadi dan Pemerintah segera mengesahkannya.

"Draft ini harus disempurnakan, filosofinya kan (RUU Perlindungan Data Pribadi) diambil dari amanat Undang-undang 1945 tentang perlindungan diri pribadi, kalau diri pribadi kan bukan hanya dari aspek ekonominya, tapi juga aspek keamanan dan hak asasi yang lain, karena kan melihat banyak pelanggaran data pribadi untuk politik dan keamanan," kata dia.

 Kasus jual beli data NIK dan KK ini sudah terjadi selama bertahun-tahun.

Baca juga: Ini Alasan Hendrawan Ungkap Kasus Jual Beli Data NIK dan KK di Facebook

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini