Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspada Pakai WiFi Gratis di Ruang Publik, Ini Bahayanya

Jum'at 02 Agustus 2019 11:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 02 207 2086818 waspada-pakai-wifi-gratis-di-ruang-publik-ini-bahayanya-edO0zdmjMM.jpg (Foto: Engadget)

JAKARTA - Internet telah menjadi kebutuhan sehari-hari. Untuk bisa mengakses internet, pengguna harus menggunakan layanan data via ponsel atau memanfaatkan WiFi.

Saat menggunakan WiFi, seseorang boleh jadi harus memasukan password WiFi terlebih dahulu. Namun, beberapa tempat umum mungkin menyediakan fasilitas WiFi gratis.

Dikutip dari Sindonews, WiFi gratisan memiliki berisiko terhadap keamanan data pribadi pengguna intenet. Hal ini diungkapkan ahli di London yang baru-baru ini melakukan riset terkait pemanfaatan WiFi di tempat umum.

Dalam riset tersebut, ahli keamanan siber Inggris Colin Tankard mengungkapkan bahwa ada fasilitas WiFi di tempat umum yang sangat rawan pencurian data. Kejahatan siber itu juga bisa membobol kartu kredit tanpa disadari sedikit pun oleh korban.

Tankard menunjukkan situasi itu secara langsung kepada wartawan Dailymail, Toby Walne. Sebagian besar target biasanya disasar di tempat penginapan bintang lima, stasiun, atau kafe kelas atas.

Selama peragaan, Walne duduk di kursi dekat resepsionis di sebuah hotel. Dia merasa aman untuk membuka dan menyalakan laptop. Halaman depan situs web hotel tersebut muncul saat hendak menyambung ke jaringan internet melalui WiFi.

Meski ada peringatan bahwa penggunaan WiFi tidak aman, namun Walne tidak mengindahkannya. Tankard lalu mendekati Walne dan menanyakan jika soket dinding di sampingnya ada yang tidak dipakai. Tankard pun kemudian mengeluarkan sebuah benda kotak seukuran bungkus rokok yang dilengkapi dua antena.

 Untuk bisa mengakses internet, pengguna harus menggunakan layanan data via ponsel atau memanfaatkan WiFi.

Baca juga: Gelar 5G, Indonesia Dinilai Cocok Manfaatkan Spektrum 3,5 GHz

Dia menyebutnya ‘nanas’ mengingat di atasnya ditempeli sticker buah nanas. Meski tidak memberikan ancaman setegang bom, benda tersebut memiliki kemampuan khusus untuk memata-matai korban.

Alat seharga 200 poundsterling (Rp3,4 juta) itu dapat mengimitasi sinyal Wi-Fi yang digunakan korban dalam hal ini Wi-Fi di hotel tersebut. Tanpa disadari, Tankard sukses menguntit setiap pergerakan Walne di dunia internet, mulai dari saat masuk ke dalam email, media sosial, hingga transaksi menggunakan kartu kredit.

“Saat korban memasukkan nomor dan password kartu kredit, saat itu pula hacker mengetahuinya dan menyimpannya sebelum melakukan aksi kriminal,” kata Tankard. Dalam hitungan menit, Tankard juga mampu mengakses kontak yang terdapat di dalam laptop Wilne, biasanya akan dijadikan korban penipuan.

Berikutnya, Tankard mengeluarkan alat penguat sinyal seukuran bungkus korek api berwarna perak. Gadget seharga 30 poundsterling (Rp500.000) itu dapat membantu hacker untuk meretas dan menguras kartu kredit korban dari jarak relatif jauh, baik dari tempat parkir mobil ataupun di lokasi lain di dalam hotel.

Menurut Tankard, hacker sering beraksi di sekitar hotel karena selain disediakan WiFi gratis juga menjadi tempat lalu-lalang para pebisnis. “Jika hacker berniat menggali sedikit lebih dalam, mereka juga dapat membobol sistem internal hotel, mulai dari reservasi, kunci ruangan, hingga nomor kartu kredit tamu,” katanya.

 Untuk bisa mengakses internet, pengguna harus menggunakan layanan data via ponsel atau memanfaatkan WiFi.

Baca juga: ICT Watch Desak RUU PDP Dibahas di DPR Tahun Ini

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini