Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Regulasi IMEI Sehatkan Persaingan Smartphone di Tanah Air

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Jum'at 16 Agustus 2019 13:28 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 16 57 2092719 regulasi-imei-sehatkan-persaingan-smartphone-di-tanah-air-tnBwWBh6Jk.jpg Suryadi Willim, Marcom Manager Evercoss (Foto: Ist)

JAKARTA - Pemerintah akan menerapkan aturan IMEI untuk perangkat ponsel. Implementasi regulasi IMEI yang sejatinya diterapkan pada 17 Agustus 2019 ini diharapkan bisa mengurangi peredaran ponsel black market (BM) di Indonesia.

Aturan IMEI ini mendapatkan tanggapan dari produsen ponsel lokal, Evercoss. Menurut Suryadi Willim, Marcomm Manager Evercoss, aturan ini akan berdampak positif terhadap persaingan smartphone di Tanah Air. Kebijakan tersebut diharapkan akan mengerem peredaran ponsel BM.

Sebagaimana diketahui, dengan sistem yang dimiliki pemerintah bernama SIBINA (Sistem Informasi Basis data IMEI Nasional) mampu mendeteksi terhadap IMEI smartphone. Jika IMEI sebuah smartphone tidak terekam di sistem itu, maka ponsel tersebut secara otomatis direkomendasikan oleh SIBINA agar operator memblokir layanan.

Dengan sistem tersebut Evercoss merasa ada harapan untuk kembali berkompetisi lebih sengit di industri smartphone Tanah Air.

Pemerintah akan menerapkan aturan IMEI untuk perangkat ponsel.

Baca juga: Bukan Laptop, Ini Daftar Perangkat yang Kena Regulasi IMEI

Menurutunya dengan harga yang sama, semisal Rp1.200.000 konsumen bisa mendapatkan smartphone Black Market dengan spesifikasi lebih tinggi dibanding dengan smartphone Evercoss.

Mestinya, lanjut Suryadi, harga smartphone tersebut berada pada kisaran Rp1.500.000 s/d Rp1.700.000. Smartphone Black Market ini bisa menjualnya dengan harga Rp1.200.000, malahan ada yang di bawah harga pasaran.

  Pemerintah akan menerapkan aturan IMEI untuk perangkat ponsel.

Baca juga: 5 Smartphone dengan Kamera Pop-up Terbaik di 2019

”Bagaimana kami bisa bersaing dengan smartphone Black Market. Posisi kami sebagai pemain legal dan menaati peraturan justru disengat dengan siraman ponsel Black Market,” ungkap Suryadi.

“Dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun ini kami tersengat dengan gempuran ponsel Black Market. Jika ini tidak segera diantisipasi, kami yakini akan berdampak lebih buruk lagi terhadap industri smartphone nasional secara keseluruhan. Kami membaca laporan dari Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI), peredaran ponsel Black Market mencappai 20-30 persen. Merugikan Negara sekitar Rp2,8 triliun per tahun. Angka yang sangat fantastis,” jelas Suryadi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini