nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemerintah Buka Akses Internet di Papua, Ini Tanggapan SAFEnet

Rais Erizam, Jurnalis · Minggu 08 September 2019 12:35 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 08 54 2102067 pemerintah-buka-akses-internet-di-papua-ini-tanggapan-safenet-vImYKgJ5Ab.jpg (Foto: BBC)

JAKARTA - Pemerintah telah membuka akses internet secara bertahap di beberapa daerah di Papua pada Rabu (4/9). Diketahui sebelumnya, pemerintah telah menutup akses internet secara menyeluruh di Papua dan Papua Barat.

Pemerintah beranggapan bahwa pembatasan akses internet di Papua bertujuan untuk mengurangi hoaks yang masuk dari dalam atau dari luar daerah yang memungkinkan terjadinya keadaan yang semakin tidak kondusif di Papua.

"Beberapa hari ini, masyarakat di Papua berharap kepada pemerintah untuk membuka semua akses internet secara menyeluruh, karena akses internet sangat dibutuhkan untuk mendapatkan dan memberikan informasi, banyak pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat menjadi terhenti," kata Koordinator Regional SAFEnet, Damar Juniarto kepada Okezone pada Jumat (6/9/2019).

Ia mengatakan, pihaknya tetap mengajukan kepada pemerintah soal pembukaan akses internet secara menyeluruh, karena sebelumnya pemerintah telah menutup akses internet secara serentak di Papua dan Papua Barat. "Kita ingin tau mekanisme yang digunakan oleh Kominfo, secara tidak langsung di sini mereka menunjukan ketidak transparan kepada masyarakat," tambahnya.

 Pemerintah kembali membuka blokir atas layanan data internet di wilayah Kabupaten Nabire dan Kabupaten Dogiyai di Provinsi Papua.

Baca juga: Dinilai Kondusif, Kominfo Buka Akses Internet di Kabupaten Nabire dan Dogiyai

Menurut Damar, dalam hal ini pemerintah masih inkonsisten dengan situasi yang sedang terjadi di Papua. Cara yang digunakan dinilai tidak transparan, ini melanggar hak masyarakat untuk dapat mengakses internet di sana.

Ia juga mengatakan bahwa dengan pembatasan internet, justru akan menghambat gerak dari media sosial untuk memberantas hoaks itu sendiri. Padahal riset dari Mastel (Masyarakat Telematika) mengungkapkan bahwa peran media sosial untuk meng-counter hoaks sebesar 35%.

Ada tiga cara efektif untuk memberantas hoaks, yaitu dengan cara memberi ruang yang luas untuk kelompok atau orang untuk melakukan penelitian tentang hoaks tersebut, penegakan hukum yang baik, dan peran media untuk mengklarifikasi tentang hoaks tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini