nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Video Streaming Semakin Populer, Yuliandre Darwis Ungkap Pentingnya Regulasi Media Baru

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Rabu 11 September 2019 20:48 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 11 207 2103678 video-streaming-semakin-populer-yuliandre-darwis-ungkap-pentingnya-regulasi-media-baru-XIGZF0XSbI.jpg Yuliandre Darwis (Foto: Heru/Okezone)

JAKARTA - Teknologi semakin berkembang memungkinkan pengguna memanfaatkan internet untuk mengakses program televisi melalui perangkat mobile. Dengan populernya media digital, diharapkan terwujudnya regulasi media baru untuk mengatur hal ini.

Okezone berkesempatan untuk mewawancarai Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Yuliandre Darwis. Berikut ini penjelasan Yuliandre Darwis mengenai pentingnya regulasi media baru.

1. Saat ini marak streaming video dari siaran atau program TV yang bisa diakses secara mobile. Apakah ini menunjukkan pergeseran preferensi siaran TV ke media digital?

Perilaku masyarakat sekarang ini memang sudah berubah, hal tersebut karena teknologi juga berubah. Akan tetapi regulasi saat ini lambat berubah, situasi ini tentu tidak bisa didiamkan, tentunya regulasi juga harus berubah. Pasalnya regulasi kita saat ini hanya bersifat untuk media konvensional.

2. Teknologi mengalami perubahan, mengapa regulasi juga harus berubah?

Logikanya seperti ini, teknologi sekarang ini sudah berubah sedangkan regulasi itu statis. Tayangan bisa sama namun device-nya berbeda. Satu televisi yang satu mobile app (aplikasi mobile).

Ini sebenarnya klasifikasi undang-undang apakah didefinisi penyiaran bisakah digeser dimigrasi ke teknologi dengan mobile app. Logika hukumnya itu beda konsepnya jelas dan payung hukumnya itu jelas.

Regulasi yang mengatur tentang media baru, kan sama-sama industri. Segmentasi media baru itu kan banyak tidak hanya Netflix saja, broadcasting di media baru itu baru apa saja.

3. Kemarin ramai soal KPI mengawasi Netflix dan YouTube, sempat ada petisi, bagaimana perkembangan hal tersebut?

Dalam kasus ini KPI ingin memberikan pandangan kepada masyarakat tentang media baru. Akan tetapi bukan mau mengawasi, ini harus dibedakan. Dibedakan antara pengaturan dan pengawasan.

Kami mendorong ada yang harus mengatur, namun ini bukan berarti membatasi atau mengawasi. Jadi mengatur konten asing yang semakin banyak, dan melindungi konten di dalam negeri.

 Teknologi semakin berkembang memungkinkan pengguna memanfaatkan internet untuk mengakses program televisi melalui perangkat mobile.

Baca juga: BJ Habibie Wafat, Netizen Berduka di Twitter

4. Sudah ada UU ITE, Kominfo, dan YouTube sudah ada aturan sendiri seperti pembatasan umur?

Memang sudah ada diatur oleh mereka sendiri, cuma kita melihat bagaimana mengaturnya. Keinginan publik itu banyak supaya media baru diatur, saat kita memberi literasi, seperti di Palangkaraya saat ini banyak yang meminta. Jadi lebih kepada kita dorong untuk diatur ke badan hukum.

Tapi kita harus dorong bersama pengaturan ke media baru lagi. Mungkin bukan KPI tapi harus ada lembaga yang mengawasi hal ini bukan hanya UU ITE saja. Seperti untuk tata niaga kontennya, kalau konten konvensional itu kan 60 persen lokal. Harapannya adalah konten Indonesia itu tidak tergerus dengan konten asing seperti drama korea.

5. Bagaimana tanggapan tentang fenomena artis-artis yang menjajaki platform YouTube, menjadi seorang YouTuber? Apakah dirasa perlu KPI mengawasi sampai ke channel-channel YouTuber ini?

Kita melihat positif, platform media banyak yang mendapatkan hal yang baik, tidak dibayar banyak. Kalau ada badan hukumnya, pengawasan sudah ada. Industri televisi itu tidak bertumbuh ke tata niaga, 60 persen untuk konten lokal.

6. Target dan harapan di tahun ini?

Dorong isu ini agar menjadi harapan bersama, membangun tatanan di industri penyiaran saat ini. Regulasinya itu seperti apa, konten Indonesia juga jangan tergerus oleh drama korea dan konten barat. Ini agar konten lokal bertumbuh.

Tata kelola penyiaran Indonesia, bukan untuk menghabiskan kreativitas. Upayanya baru membuat regulasi (untuk media baru) ini, gagasan yang terbaik itu seperti apa saja.

1
2

Berita Terkait

KPI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini