Teori Habibie, Faktor Habibie dan Fungsi Habibie

Kamis 12 September 2019 10:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 12 56 2103853 teori-habibie-faktor-habibie-dan-fungsi-habibie-NVluz4FZEm.jpg

Mr Crack, begitulah sebutan untuk Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan BJ Habibie. Habibie juga disebut sebagai ‘Manusia Multidimensional’.

Ternyata, julukan ini sangat disukai oleh Habibie. Terlebih, julukan itu muncul tak berselang lama setelah ia meraih medali penghargaan ‘Theodore van Karman’.

Ya, anugerah bergensi tersebut berada di tingkat internasional tempat berkumpulnya pakar-pakar terkemuka konstruksi pesawat terbang.

Baca Juga : Kominfo: BJ Habibie Panutan di Bidang Teknologi

Dikenal sebagai Mr Crack, sebab ia mampu menghitung crack propagation on random hingga ke atom-atom pesawat terbang. Teori ini dapat membuat pesawat lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah juga murah.

Di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, para ahli dirgantara mengenal apa yang disebut Teori Habibie, Faktor Habibie dan Fungsi Habibie.

Baca Juga : Presiden Jokowi : Habibie Ilmuwan dan Bapak Teknologi Indonesia

Faktor Habibie juga ternyata bisa berperan dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian kerangka pesawat. Sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara saat tubuh pesawat lepas landas. Begitu pula dengan landing gear yang akan jauh lebih kokoh, sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat.

Namun, kita telisik sedikit mengenai terjadinya teori-teori yang Habibie ciptakan untuk membuat pesawat menjadi transportasi pilihan yang aman bagi masyarakat.

Pada awal 1960-an, musibah pesawat terbang masih sering terjadi karena kerusakan konstruksi yang tak terdeteksi kelelahan pada bodi pesawat yang masih sangat sulit terdeteksi dengan keterbatasan perkakas.

Baca Juga : BJ Habibie Meninggal, Melly Goeslaw Merasa Sakit dan Sepi

Saat itu, belum ada pemindai dengan sensor laser yang didukung unit pengolah data komputer untuk mengatasi persoalan rawan tersebut. Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat atau antara sayap dan dudukan mesin.

Ketika menyentuh landasan, bagian ini pula yang menanggung empasan tubuh pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itulah awal dari keretakan atau crack. Kalau tidak terdeteksi, taruhannya jelas harga mahal, karena sayap bisa sontak patah saat pesawat tinggal lepas landas.

Habibie yang menemukan bagaimana rambatan titik crack itu bekerja. Perhitungannya sungguh rinci, sampai pada hitungan atomnya. Namun sebelum titik crack bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantispasi kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor keselamatannya (SF). Caranya, meningkatkan kekuatan bahan konstruksi jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya.

Akibatnya, material yang diperlukan lebih berat. Untuk pesawat terbang, material aluminium dikombinasikan dengan baja. Namun setelah titik crack bisa dihitung maka derajat SF bisa diturunkan.

Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang. Dalam dunia penerbangan, terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie.

Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10 persen dari bobot sebelumnya. Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25 persen setelah Habibie menyusupkan material komposit ke dalam tubuh pesawat.

Baca Juga : Reza Rahadian Sangat Terpukul Kehilangan BJ Habibie, Ini Penyebabnya

Pengurangan berat ini tak membuat maksimum take off weight-nya (total bobot pesawat ditambah penumpang dan bahan bakar) ikut merosot. Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh. Sehingga secara ekonomi, kinerja pesawat bisa ditingkatkan.

Kejeniusan mantan Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu membuat dirinya memegang banyak hak paten atas temuannya di bidang konstruksi pesawat terbang. Sehingga tentu saja menjamin hidupnya rutin memperoleh royalti.

Bukan handa itu, dalam disiplin ekonomi makro yang dikenal dengan istilah Habibienomics, sebuah pemahaman yang menegaskan bagaimana gagasan Habibie tentang pemberian nilai tambah ekonomi tinggi di setiap produksi barang dan jasa melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1
3

Berita Terkait

BJ Habibie

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini