Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tingkatkan Ekonomi Digital UMKM, Bukalapak Gandeng Google Bisnisku

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 08 Oktober 2019 16:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 08 207 2114281 tingkatkan-ekonomi-digital-umkm-bukalapak-gandeng-google-bisnisku-QNUoNCPDn9.jpg (Foto: Pernita Hestin Untari/Okezone)

JAKARTA - Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengungkapkan bahwa hingga Ferbruari 2019, sekira 16,33 persen atau 9,61 juta pelaku UMKM sudah mengadopsi teknologi dalam praktik bisnisnya dari total 58,9 juta pelaku usaha kecil di Indonesia.

Angkanya masih cukup kecil jika melihat data tersebut. Untuk meningkatkan potensi ekonomi digital UMKM kecil, Bukalapak resmi mendaftarkan Warung Mitra Bukalapak pada fitur Google Bisnisku.

Menurut Co-Founder dan Presiden Bukalapak, Fajrin Rasyid saat ini sudah ada sekira 95 ribu Warung Mitra Bukalapak yang telah mendaftarkan bisnisnya di Google Bisnisku. Sehingga nantinya, Warung Mitra Bukalapak dapat muncul pada halaman pencarian seperti Google Maps dan Penelusuran Google.

"Kita bekerjasama dengan Google untuk meluncurkan mitra Bukalapak di Google My Business (Google Bisnisku). Sudah ada sekitar 100 ribu kurang lebih (95.000) mitra Bukalapak yang tedaftar di dalam Google My Business ini. Terus bertambah juga mungkin tidak lama lagi menyentuh angka 2,5 juta. Kita targetkan ini bisa tercapai dengan sebagusnya," kata Fajrin di Kantor Bukalapak, Selasa (8/10/2019).

 Bukalapak resmi mendaftarkan Warung Mitra Bukalapak pada fitur Google Bisnisku.

Baca juga: Segera Meluncur, Intip 3 Fitur Baru WhatsApp

Fajrin juga menjelaskan saat pengguna Google mengetik kebutuhan yang dicari, misalnya dengan kata ‘Warung’ atau ‘Frozen food’ di penelusuran Google, maka yang muncul pada halaman pencarian adalah Warung Mitra Bukalapak terdekat, lengkap dengan deskripsi dan lokasi agar mudah ditemukan oleh pelanggan. Hal ini diharapkan dapat mendorong warung agar semakin relevan dengan perkembangan teknologi terkini.

Fajir mengatakan, dengan berkembangnya teknologi saat ini bukan seberat canggihnya teknologi namun yang paling penting adalah bagaimana teknologi memecahkan masalah.

"Masalah itu berbeda di setiap negara. Jadi makanya kalau kita bicara apakah Indonesia membutuhkan toko dengan otomasi yang tidak ada orangnya? Mungkin tidak dalam waktu dekat. Sebaliknya di Indonesia kondisi ritelnya masih banyak sekali warung-warung yang perlu dibantu. Bisakah kita mengimplementasikan teknologi terhadap warung-warung ini? Itulah yang terus kita lakukan dan yang akan terus kita lakukan," kata Fajrin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini