Temukan Unsur Diskriminasi di Google Translate, Warga Aceh Layangkan Protes

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Rabu 16 Oktober 2019 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 16 207 2117587 temukan-unsur-diskriminasi-di-google-translate-warga-aceh-layangkan-protes-ZcmCGblRZw.jpg Ilustrasi Google Translate (Foto: Slator)

JAKARTA- Forum Masyarakat Melayu dan Aceh melayangkan protes kepada Google. Mereka menemukan adanya tindak diskriminatif terhadap suku Aceh pada layanan Google Translate.

Dari surat tersebut disebutkan bahwa sejumlah pengertian dalam Google Translate telah merendakan suku Aceh dan Melayu. Bahkan beberapa frasa yang mengandung Aceh dan Melayu diterjemahkan menjadi umpatan.

Salah satu contoh yakni frasa 'anak aceh' dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu jika diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi ‘son of a bitch’ atau 'bajingan'. Kemudian frasa ‘anak Melayu’ sebagai ‘bajingan’, ‘wong melayu’ sebagai ‘orang-orang curang’.

Saat Okezone mencoba mengetikan frasa 'anak aceh' dalam bahasa Jawa dan diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi 'son of bitch'. Serta dalam bahasa Indonesia menjadi bajingan. Namun terjemahan akan berbeda jika huruf  diubah menjadi "Anak Aceh" artinya akan sama.

 Warga Aceh Layangkan Protes Setelah Temukan Unsur Diskriminasi di Google Translate

Warga Aceh Layangkan Protes Setelah Temukan Unsur Diskriminasi di Google Translate

Sumber: Screnshoot Google Translate

Menurut narahubung Forum Masayarakat Melayu Aceh, Haekal Afifa pihaknya menemukan adanya unsur kesengajaan.

"Saya diberi tahu oleh teman-teman Melayu Medan sekitar dua minggu yang lalu. Kita sudah mencoba track apakah ada kegagalan sistem atau dari sistem algoritmnya. Tapi ketika sedang track kita tidak menemukan menurut kita kalau itu memang sistem. Kita melihat itu ada unsur kesengajaan," kata Haekal kepada Okezone, Rabu (16/10/2019).

Lebih lanjut dia juga mengungkapkan bahwa pihaknya tahu bahwa Google Translate memang terbuka, yang artinya dapat diisi oleh kontibutor dan volunteer.

"Masalahnya kan kita tidak tahu ini siapa. Sehingga kita melalukan protesnya ke Google. Berbeda dengan produk lauyanana mereka seperti search engine , disana kan siapa saja bisa meng-upload dan kita tahu itu siapa. Sehingga kita bisa protes ke website atau siapa yang melakukan diskriminasi," jelas dia.

 Warga Aceh Layangkan Protes Setelah Temukan Unsur Diskriminasi di Google Translate

Sumber: Haekal Afifa

Baca Juga: Palapa Ring Diharapkan Dukung Layanan Data dan Wirausaha di Papua

Baca Juga: Dampak Positif Palapa Ring bagi Bisnis di Daerah Terjangkau Sinyal

Haekal juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum mendapatkan jawaban dari Google. Namun ia berharap Google dapat memberikan klarifikasinya.

"Kita ingin pihak Google memberikan jawaban, kalau ada pihak komunitas yang menginput mohon ditindak dan jangan diberi ruang untuk mereka, kepada siapapun tidak hanya orang Aceh atau Melayu. Kalau ini dibiarkan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang tidak terlalu paham teknologi. Takutnya nanti bias, apalagi pasca Papua kemarin," ungkap dia.

Warga Aceh Layangkan Protes Setelah Temukan Unsur Diskriminasi di Google Translate

Sumber: Haekal Afifa

Baca Juga: Signify Ungkap Teknologi LED dengan Baterai Rechargeable

"Kalau tetap dibiarkan seperti ini, Google seperti memberi ruang bisa berpotensi memcahkan. dan kita tidak mau," imbuh Haekal.

Dalam suratnya, Forum Masyarakat Melayu dan Aceh mengungkapkan akan menunggu jawaban Google selambat-lambatnya 3 x 24 jam setelah surat protes ini sampai ke hadapan Google yakni sejak Selasa, 15 November 2019.

"Apabila protes kami ini tidak dijawab, maka kami akan mengambil tindakan lebih lanjut," kata Haekal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini