Penerapan Teknologi 5G Masih Tersendat Frekuensi, Ini Kata Pengamat

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 12 Desember 2019 14:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 12 54 2141054 penerapan-teknologi-5g-masih-tersendat-frekuensi-ini-kata-pengamat-OO9koqw4Zh.jpg (Foto: TechSpot)

LABUAN BAJO - Penerapan teknologi 5G di Indonesia masih terkendala pemilihan frekuensi. Heru Sutadi, pengamat telekomunikasi menceritakan bagaimana dahulu Indonesia sebelum masuk ke era 3G.

Heru mengungkapkan bahwa pada 2006 Indonesia masih diselimuti dengan sinyal GPRS dan Edge (2G), jaringan 3G kala itu masih belum ada. Beberapa operator pun menurut Heru masih belum berani untuk membawa 3G. Pasalnya, kala itu daya beli masyarakatnya rendah dan penetrasi internet kala itu belum sebesar sekarang.

"Perkembangannya di 2006 itu khawatir laku tidak, tapi beruntung ya dalam perkembangannya sudah mengenal Friendster ke Facebook. Lalu pada 2008 penggunaan data itu sangat cepat. Kemudian kita berkembang lagi mengembangkan 4G, dan baru kemarin kita berbicara 5G," kata Heru dalam acara Kumpul Media Huawei di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (12/12/2019).

Lebih lanjut, Heru juga mengungkapkan tantangan lainnya, sebelum jaringan 3G masuk, jaringan tersebut belum memiliki frekuensi.

"Di 900Mhz itu kan penuh karena ada Flexi dan Smartfren, yang dilakukan pemerintah kala itu memindahkan frekuensi. Yang dilakukan waktu itu Flexi dipindah ke 800Mhz, lalu Smartfren ke 2100Mhz. Kemudian kita bisa pakai 3G, yang menarik juga waktu adopsi 4G ada problem juga. Saat membuka 4G di 2,3 Ghz itu tidak umum secara internasional. Pemerintah mengubah frekuensi 900Mhz untuk 4G," lanjut Heru.

 Penerapan teknologi 5G di Indonesia masih terkendala pemilihan frekuensi.

Baca juga: Teknologi 5G Atasi Kesenjangan Digital hingga Ciptakan Bisnis Baru

Seperti polemik yang sama, gelaran 5G juga tersendat dengan pemilihan frekuensi. Ada beberapa frekuensi yang potensial yakni 3,5Ghz, 26GHz, dan 28GHz. Sayangnya untuk 3,5 GHz masih digunakan oleh satelit.

Sementara untuk 26GHz dan 28GHz jangkauan areanya kecil, sehingga hanya bisa digunakan untuk skala kecil seperti industri manufaktur dan IoT. Heru pun mengungkapkan bahwa untuk mengadopsi 5G juga harus memperhatikan frekuensi yang digunakan di negara lain.

"Untuk 5G itu frekuensi yang utama (secara global) itu 3,5Ghz dan 2,5Ghz untuk yang bersifat mobile. Tapi kondisinya 3,5 dipakai satelit telkom, 2,5 dipakai televisi langganan. Sementara 700Mhz masih belum clear. Harus ada upaya untuk memilih salah satu frekunsi ini untuk menjadi frekuensi utama 5G," kata Heru.

Untuk diketahui, teknologi 5G dikabarkan mampu mendukung internet cepat bahkan mencapai 10 kali lipat 4G. Tidak hanya itu karena mendukung latensi rendah, teknologi ini mampu mendukung adanya teknologi baru seperti IoT, Augmented Reality, Virtual Reality, mesin tanpa awak, eSports, smart city, dan masih banyak lagi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini