Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Registrasi Kartu SIM Pakai Face Recognition, Pengamat: Data Jangan Disalahgunakan Pihak Ketiga

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Jum'at 13 Desember 2019 16:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 13 54 2141603 registrasi-kartu-sim-pakai-face-recognition-pengamat-data-jangan-disalahgunakan-pihak-ketiga-jhqdOjqff0.jpg (Foto: OnedayKorea)

LABUAN BAJO - Menyusul China, Badan Regulasi dan Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dikabarkan akan menerapkan registrasi kartu seluler menggunakan teknologi face recognition. Terkait wacana tersebut, Pengamat Telekomunikasi Indonesia ICT Institut Heru Sutadi menilai bahwa hal tersebut dilakukan untuk memperbaiki sistem registrasi saat ini.

"Beberapa negara sekarang ini sudah mulai nih face recognition, diperbankan kita juga sudah diterapkan. Caranya nanti mungkin tidak lagi datang ke gerai difoto. Namun caranya modern bikin aplikasi," kata Heru disela-sela acara Kumpul Media Huawei di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (13/12/2019).

Meskipun lebih mudah dan canggih, Heru mengungkapkan bahwa beberapa hal juga harus diperhatikan sebelum menerapkan sistem tersebut, salah satunya terkait bagaimana data tersebut dilindungi dan ada hukuman tegas untuk pengirim spam.

"Yang mengirim spam segala macam dilihat lagi tujuannya apa, siapa, dan kasih sanksi di-block atau apa. Atau ada yang merugikan konsumen bisa diproses secara hukum. Nah ini yang selama ini belum kelihatan," imbuh Heru.

Dia juga menambahkan bahwa jika pendaftaran kartu seluler menggunakan face recognition diimplementasikan, maka harus ada regulasi baru yang dibuat.

 Badan Regulasi dan Telekomunikasi Indonesia dikabarkan akan menerapkan registrasi kartu seluler menggunakan teknologi face recognition.

Baca juga: Samsung Galaxy Fold Resmi Rilis di Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harganya

"Makanya perubahan pertama soal Peraturan Menteri registrasi prabayarnya. Tapi di sisi lain ini menyangkut data masyarakat, data ini disimpannya di mana di operator atau pemerintah karena pakai aplikasi," kata Heru.

Heru melanjutkan bahwa dirinya melihat bahwa data lebih baik disimpan di Pemerintah. Namun, menurutnya Pemerintah juga harus bisa menjamin data tersebut tidak disalahgunakan untuk pihak ketiga.

"Jangan karena semua udah face recognition, kemudian di-publish seenaknya, tidak boleh. Nanti sudah KTP, wajah kita, nomor semuanya jadi satu, orang akan jadi lebih mudah lagi mengenali kita," kata Heru.

Heru juga berharap bahwa sistem registrasi yang nantinya diterapkan akan lebih baik. Pasalnya, registrasi kartu seluler yang diterapkan sekarang ini belum benar-benar mulus.

 Badan Regulasi dan Telekomunikasi Indonesia dikabarkan akan menerapkan registrasi kartu seluler menggunakan teknologi face recognition.

"Justru jadi pertanyaan sekarang spam setiap hari tetap ada. Pasti ada sesuatu yang salah dengan registrasi tersebut. Yang utamanya adalah bagaimana penegakan hukum, monitoring terhadap perkembangan penyebarluasan soal spam yang belum hilang selama ini," kata Heru.

Di sisi lain, lanjut Heru aturan soal registrasi kartu prabayar juga harus diperbarui, karena didalamnya ada pembatasan satu orang 3 nomor.

"Itu pelanggaran UUD, tidak boleh ada pembatasan akses telekomunikasi. Orang boleh punya tiga nomor seperti punya lima mobil ya boleh, sepuluh email ya boleh. Kita tidak boleh batasin harus direvisi," kata Heru.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini