Ilmuwan Uji Coba Produksi Baterai dengan Garam & Kulit Apel

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 19 Desember 2019 11:51 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 19 56 2143756 ilmuwan-uji-coba-produksi-baterai-dengan-garam-kulit-apel-CLC4WYfdYH.jpg Ilustrasi Garam (Foto: Food Navigator)

JAKARTA- Dampak dari produksi baterai masih menjadi salah satu permasalahan lingkungan hingga saat ini. Hal tersebut diakibatkan dari penambangan lithium yang menyisakan kerusakan lingkungan.

Menariknya, beberapa ilmuwan sekarang ini mencoba untuk mencari bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Seperti ilmuwan dari Institute Helmholtz di Jerman, mereka meneliti baterai baru dengan bahan natrium (garam) untuk mengganti lithium, dan bahan organik untuk mengganti mineral grafit.

Seperti diketahui, baterai lithium banyak hadir sebagai pengisi mobil listrik. Pada prosesnya, lithium tersimpan pada kutub positif, pada kutub negatif berisi zat mineral grafit. Kemudian, ketika diisi ion-ion mengalir ke kutub negatif lalu tersimpan dan muatan dilepas, lithium akan kembali ke kutub positif dan listrik dihasilkan.

Menurut Direktur Helmholtz Intitute Ulm, Stefano Passerini natrium menjadi pengganti pertama untuk lithium karena sifatnya yang mirip.

"Karena itu proses produksi baterainya harus diubah sedikit dan natrium tersedia dalam jumlah yang berlimpah, ini secara praktis bisa ditemukan dimana-mana dari air laut atau tambang garam," kata Paserini dalam YouTube Channel DW Indonesia, Kamis (19/12/2019).

 Ilmuwan Uji Coba Produksi Baterai dengan Garam & Kulit Apel

Baca Juga: Ini Dampak Gerhana Matahari Cincin di Wilayah Indonesia

Passerini juga mengungkapkan bahwa natrium juga jauh lebih murah, sementara itu untuk pengganti grafit bisa menggunakan sisa-sisa makanan seperti kulit apel, jagung, dan kulit kacang. Sehingga harga produksinya semakin murah.

"Bahan karbon sisa makanan ini bisa menggantikan grafit yang harganya jauh lebih mahal," imbuh Passerini.

Para ilmuwan bereksperimen dengan kulit apel dan dikeringkan sehingga menghantar listrik lebih banyak.

Dalam uji coba baterai natrium tidak ada kelembapan udara sedikit pun di dalam ruangan, karena kelembapan dapat merusak baterai. Baterai natrium diklaim lebih bagus dan untuk beberapa tahun lagi mungkin siap diproduksi.

Baca Juga: Satelit Internet yang Diluncurkan SpaceX Cakup Wilayah Indonesia

Baca Juga: Arkeolog Temukan Kerangka Manusia Kerdil Berusia 5.000 Tahun

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini