2020, Matahari Buatan China Akan Beroperasi

Muhammad Ferdiansyah, Jurnalis · Jum'at 20 Desember 2019 06:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 19 56 2143994 2020-matahari-buatan-china-akan-beroperasi-kDhoLAXZS0.jpg (Foto: Newsweek)

JAKARTA - China akan mengoperasikan matahari buatannya, HL-2M Tokamak pada 2020. HL-2M Tokamak berfungsi untuk meniru fusi nuklir, seperti dikutip Newsweek.

Fusi nuklir merupakan suatu proses yang memberikan daya bagi matahari untuk bersinar. Matahari buatan ini dirancang untuk meniru reaksi alami yang terjadi di matahari menggunakan gas hidrogen dan deuterium sebagai bahan bakar.

Matahari buatan ini bertujuan menyediakan energi bersih melalui fusi nuklir terkontrol.

Duan Xuru, salah seorang ilmuwan pada proyek ini mengatakan, HL-2M Tokamak akan mencapai suhu lebih dari 200 juta derajat Celcius. Itu sekira 13 kali lebih panas dari pusat matahari.

Dalam prosesnya, para ilmuwan harus membakar bahan bakar hidrogen sampai suhu lebih dari 100 juta derajat celcius. Hidrogen akan menjadi plasma panas.

Lalu, plasma yang sangat panas ini harus dikekang menggunakan alat berbentuk donat yang disebut tokamak. Tokamak akan menggunakan medan magnet di dalamnya untuk menstabilkan plasma sehingga reaksi dapat terjadi dan energi dapat dilepaskan.

 China akan mengoperasikan matahari buatan

Baca juga: Awal 2020, Xiaomi Redmi Note 7 Terima Update Android 10

Perangkat sebelumnya yang dikembangkan untuk percobaan matahari buatan mencapai 100 juta derajat Celcius, sebuah terobosan yang diumumkan pada November 2018.

Dengan memanfaatkan kekuatan yang dihasilkan melalui fusi nuklir, China akan mendapatkan energi bersih yang hampir tak terbatas.

Para peneliti di seluruh dunia telah berusaha untuk mencapai tujuan ini selama beberapa dekade terakhir. Maka dengan berhasilnya proyek ini, China telah membuat gebrakan baru terkait teknologi fusi nuklir.

Duan Xuru mengumumkan perangkat itu akan mulai beroperasi pada 2020 di Konferensi Energi Fusi China 2019.

"HL-2M akan memberikan para peneliti data berharga tentang kompatibilitas plasma fusi berkinerja tinggi dengan pendekatan untuk lebih efektif menangani panas dan partikel yang dikeluarkan dari inti perangkat," kata James Harrison, fisikawan fusi yang tidak terlibat dengan proyek.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini