Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Surili, si Monyet Beruban

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Jum'at 17 Januari 2020 11:04 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 17 207 2154149 mengenal-surili-si-monyet-beruban-wZUm2EZBZT.jpg Monyet Surili. Foto : Dok. Kementerian Lingkungan Hidup

Surili yang dalam Bahasa Latin disebut Presbytis comata merupakan spesies primata endemik Jawa Barat dan pernah menjadi maskot Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat pada tahun 2016. Ini merupakan bentuk apresiasi dari pemerintah terhadap konservasi satwa endemik yang terancam punah ini.

Menurut Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGPP) seperti dikutip dari laman resminya, pada umumnya kelompok surili atau yang sering disebut monyet beruban terdiri atas satu ekor jantan dengan satu atau lebih betina (one male multi female troop), atau dengan kata lain surili biasanya berpoligami.

Kelompok surili ini senang makan buah-buahan dan biji-bijian serta serangga yang berada di pohon walen (Ficus ribes). Dengan memakan buah dan biji, satwa ini dapat membantu dalam menyebarkan biji tumbuhan di kawasan gunung yang kemudian akan tumbuh menjadi anakan pohon baru. Dengan demikian surili berperan dalam memelihara kelestarian kawasan hutan khususnya dalam regenerasi alami.

Fakta di lapangan menurut TNGPP menunjukkan surili yang biasa ditemukan di sekitar air terjun Cibeureum, Jawa Barat tak sedikit pun “takut” atau “menghindar” dari manusia, padahal di sekitar air terjun Cibeureum ramai pengunjung dengan berbagai aktivitasnya seperti bermain air, mengobrol. Bahkan ketika pengunjung mendekat untuk mengambil gambarnya pun, mereka tak terlihat panik bahkan terkesan menikmati jepretan kamera.

Perilaku satwa ini menarik karena adanya perubahan dan habitat sudah mulai ramai dikunjungi pengunjung sehingga surili yang dahulu pemalu sudah mulai berani dengan keramaian.

Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki kekayaan keanekaragaman fauna salah satunya jenis primata yang hidup di dalamnya. 

Primata di TNGC yang memiliki ciri fisik khas adalah Surili (Presbytis comata). Populasi hasil monitoring Balai TNGC pada 2012 - 2017 terdapat 29 kelompok dari 177 individu.

Lokasi penemuan Surili di TNGC menurut Balai Taman Nasional Gunung Ciremai berada di ketinggian yang bervariasi mulai 730 meter di atas permukaan air laut (mdpl) hingga 2.015 mdpl. 

Surili di kawasan TNGC pada umumnya menempati tiga tipe ekosistem sebagai habitatnya, yakni hutan dataran rendah, hutan sub pegunungan, dan hutan pegunungan. Namun monitoring terakhir tahun 2017 menjumpai Surili berada pada ekosistem sub alpin diketinggian >2.400 mdpl.

Satwa ini dilindungi Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan menurut Red List IUCN berstatus Endangered (Terancam). Surili dengan melihat status konservasi dan perannya di ekosistem, merupakan salah satu satwa keystone species (spesies kunci).

Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki kekayaan keanekaragaman fauna salah satunya dari jenis primata. Primata di TNGC yang memiliki ciri fisik khas adalah Surili (Presbytis comata). Pendugaan populasi hasil monitoring Balai TNGC pada 2012 hingga 2017 terdapat 29 kelompok dari 177 individu. Lokasi penemuan Surili di TNGC memiliki ketinggian yang bervariasi mulai 730 meter diatas permukaan air laut (mdpl) hingga 2.015 mdpl. Surili di kawasan TNGC pada umumnya menempati tiga tipe ekosistem sebagai habitatnya, yakni hutan dataran rendah, hutan sub pegunungan, dan hutan pegunungan. Namun monitoring terakhir tahun 2017 menjumpai Surili berada pada ekosistem sub alpin diketinggian >2.400 mdpl.

Satwa ini dilindungi Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan menurut Red List IUCN berstatus Endangered (Terancam). Surili dengan melihat status konservasi dan perannya di ekosistem, merupakan salah satu satwa keystone species (spesies kunci).

Surili merupakan nama dalam bahasa Indonesia dan Sunda untuk menyebutkan monyet pemakan daun yang penyebarannya hanya terbatas di Pulau Jawa bagian barat. Keterbatasan dari keberadaan populasi Surili yang terancam punah di alam inilah yang menjadikannya sebagai maskot pada penghelatan PON XIX Tahun 2016 Jawa Barat.

Surili jawa termasuk ke dalam keluarga Cercopithecidae genus Presbytis. Surili jawa memiliki ukuran tubuh sedang sampai besar. Ciri-ciri khas monyet ini yang membedakan dengan primata lainnya adalah warna bulu abu-abu diseluruh bagian tubuh, namun berwarna putih di bagian dada. Rambut yang menutupi tubuh cukup panjang dan tebal, rambut di kepala memiliki jambul berujung runcing, alis meremang kaku mengarah ke depan.

Sehari-harinya aktifitas Surili jawa di antaranya adalah bermain dan mencari pakan di dalam dan di luar kawasan TNGC. Jenis tumbuhan yang sering menjadi pakan antara lain Kaliandra, Pakis, Kondang, Alpukat, Kopi, Beunying, Bungbuay, Nangka, Melinjo, Nangsi dan sebagainya.

Surili jawa merupakan hewan yang hidup berkelompok dan umumnya dalam satu kelompok di pimpin oleh satu jantan dewasa dengan anggota betina beserta anak-anaknya.

Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki kekayaan keanekaragaman fauna salah satunya dari jenis primata. Primata di TNGC yang memiliki ciri fisik khas adalah Surili (Presbytis comata). Pendugaan populasi hasil monitoring Balai TNGC pada 2012 hingga 2017 terdapat 29 kelompok dari 177 individu. Lokasi penemuan Surili di TNGC memiliki ketinggian yang bervariasi mulai 730 meter diatas permukaan air laut (mdpl) hingga 2.015 mdpl. Surili di kawasan TNGC pada umumnya menempati tiga tipe ekosistem sebagai habitatnya, yakni hutan dataran rendah, hutan sub pegunungan, dan hutan pegunungan. Namun monitoring terakhir tahun 2017 menjumpai Surili berada pada ekosistem sub alpin diketinggian >2.400 mdpl.

Satwa ini dilindungi Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan menurut Red List IUCN berstatus Endangered (Terancam). Surili dengan melihat status konservasi dan perannya di ekosistem, merupakan salah satu satwa keystone species (spesies kunci).

Surili merupakan nama dalam bahasa Indonesia dan Sunda untuk menyebutkan monyet pemakan daun yang penyebarannya hanya terbatas di Pulau Jawa bagian barat. Keterbatasan dari keberadaan populasi Surili yang terancam punah di alam inilah yang menjadikannya sebagai maskot pada penghelatan PON XIX Tahun 2016 Jawa Barat.

Surili jawa termasuk ke dalam keluarga Cercopithecidae genus Presbytis. Surili jawa memiliki ukuran tubuh sedang sampai besar. Ciri-ciri khas monyet ini yang membedakan dengan primata lainnya adalah warna bulu abu-abu diseluruh bagian tubuh, namun berwarna putih di bagian dada. Rambut yang menutupi tubuh cukup panjang dan tebal, rambut di kepala memiliki jambul berujung runcing, alis meremang kaku mengarah ke depan.

Sehari-harinya aktifitas Surili jawa di antaranya adalah bermain dan mencari pakan di dalam dan di luar kawasan TNGC. Jenis tumbuhan yang sering menjadi pakan antara lain Kaliandra, Pakis, Kondang, Alpukat, Kopi, Beunying, Bungbuay, Nangka, Melinjo, Nangsi dan sebagainya.

Surili jawa merupakan hewan yang hidup berkelompok dan umumnya dalam satu kelompok di pimpin oleh satu jantan dewasa dengan anggota betina beserta anak-anaknya.

Surili merupakan nama dalam Bahasa Indonesia dan Sunda untuk menyebutkan monyet pemakan daun yang penyebarannya hanya terbatas di Pulau Jawa bagian barat. 

Keterbatasan dari keberadaan populasi Surili yang terancam punah di alam inilah yang menjadikannya sebagai maskot pada penghelatan PON XIX Tahun 2016 Jawa Barat.

Surili jawa termasuk ke dalam keluarga Cercopithecidae genus Presbytis. Surili jawa memiliki ukuran tubuh sedang sampai besar. Ciri-ciri khas monyet ini yang membedakan dengan primata lainnya adalah warna bulu abu-abu di seluruh bagian tubuh, namun berwarna putih di bagian dada. Rambut yang menutupi tubuh cukup panjang dan tebal, rambut di kepala memiliki jambul berujung runcing, alis meremang kaku mengarah ke depan.

Sehari-harinya aktivitas Surili Jawa di antaranya adalah bermain dan mencari makan di dalam dan di luar kawasan TNGC. Jenis tumbuhan yang sering menjadi pakan antara lain Kaliandra, Pakis, Kondang, Alpukat, Kopi, Beunying, Bungbuay, Nangka, Melinjo, Nangsi dan sebagainya.

Surili Jawa merupakan hewan yang hidup berkelompok dan umumnya dalam satu kelompok dipimpin oleh satu jantan dewasa dengan anggota betina beserta anak-anaknya.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini