Ini Alasan WHO Namakan Virus Korona 'COVID-19'

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 13 Februari 2020 10:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 13 207 2167722 ini-alasan-who-namakan-virus-korona-covid-19-a8Hfy8VTrU.jpg Ilustrasi (Foto: Urban News)

JAKARTA- World Health Organization (WHO) mengumumkan nama resmi untuk virus korona baru yakni 'COVID-19'.

"Kami sekarang memiliki nama untuk penyakit ini (virus korona) dan itu COVID-19," kata Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dilansir dari laman Science Alert, Kamis (13/2/2020).

Tedros mengungkapkan 'co' merupakan singkatan dari 'corona', 'vi' untuk "virus" dan "d" untuk "disease" atau penyakit. Sementara "19" adalah untuk tahun virus ditemukan,  wabah virus korona pertama kali diidentifikasi pada tanggal 31 Desember 2019.

Tedros mengungkapkan nama tersebut telah dipilih untuk menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu, spesies hewan atau sekelompok orang sesuai dengan rekomendasi internasional untuk penamaan yang bertujuan mencegah stigmatisasi.

WHO sebelumnya memberi nama sementara untuk virus korona sebagai "2019-nCoV" dan Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan sementara waktu telah menyebutnya sebagai "novel coronavirus pneumonia" atau NCP.

Di bawah seperangkat pedoman yang dikeluarkan pada tahun 2015 , WHO menyarankan agar tidak menggunakan nama tempat seperti Ebola dan Zika, di mana penyakit-penyakit itu pertama kali diidentifikasi dan yang sekarang pasti terkait dengan mereka dalam pikiran publik.

Nama-nama yang lebih umum seperti "Sindrom Pernafasan Timur Tengah" atau "flu Spanyol" juga sekarang dihindari karena mereka dapat menstigmatisasi seluruh wilayah atau kelompok etnis.

WHO juga mencatat bahwa menggunakan spesies hewan dalam nama dapat menciptakan kebingungan, seperti pada 2009 ketika H1N1 secara populer disebut sebagai "flu babi".

Virus korona 'COVID-19' ini telah membubuh lebih dari 1.000 orang, menginfeksi lebih dari 60.000 orang, dan mencapai sekitar 25 negara. WHO telah menyatakan virus ini sebagai darurat kesehatan global .

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini