Cara Kerja Mesin AIS Kominfo untuk Tangani Konten Negatif

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Kamis 20 Februari 2020 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 20 54 2171428 cara-kerja-mesin-ais-kominfo-untuk-tangani-konten-negatif-abF5sLflAA.jpg (Foto: Tracktec)

JAKARTA - Tim AIS Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kedatangan Peserta Diklat Monitoring Media Sosial Tahun 2020. Kunjungan ini dipandu langsung oleh Plt. Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Anthonius Malau.

Dikutip dari situs resmi Kominfo, dalam diskusi dan sesi tanya jawab terungkap soal cara dan teknik kerja Tim AIS.

“Mesin AIS ialah mesin crawling konten negatif di internet yang diluncurkan sejak tahun 2018. Mesin AIS menggunakan artificial intelligence (AI) untuk secara cepat menentukan konten negatif,” tutur Anthonius Malau saat menyambut peserta kunjungan di Lt. 8 Gedung Kominfo, Jakarta, Rabu (19/02/2020).

Menurut Anthonius Malau, sebagai sistem pemantauan proaktif untuk penanganan konten internet bermuatan negatif, mesin AIS bekerja dengan cara mengais (crawling) dan mengklasifikasi (jutaan) tautan yang terdeteksi mengandung konten negatif.

"Hasil pemantauan akan ditindaklanjuti dengan penanganan berupa pemblokiran akses, penonaktifan konten, serta diteruskan ke instansi terkait," jelasnya.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Pendidikan Pelatihan dan Sertifikasi Teknis, Pusdiklat Kominfo, RM Agung Harimurti target kunjungan peserta pelatihan yang diselengarakan Pusdiklat Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo itu untuk menambah kompetensi teknis di bidang analisis konten media serta berlatih komunikasi publik.

Agung sangat mengapresiasi dapat mengetahui cara kerja Tim AIS. Ia pun pemperkenalkan peserta batch pertama dari empat batch pelatihan rutin Pusdiklat Kominfo di tahun ini.

“Pelatihan ini memfokuskan pentingnya analisis isi media, khususnya analisa sentimen dan rekomendasi aksi terhadap hasil analisis. Media sosial dan perkembangan big data bukan merupakan konsep yang terpisah dalam analisis isi media, tapi konsep yang penerapannya menjadi satu kesatuan di era revolusi industri 4.0,” jelasnya.

Agung juga menjelaskan bahwa peserta yang mengikuti pelatihan teknis ini ada 25 orang pegawai fungsional pranata humas jenjang muda di bidang kehumasan di Kementerian Kominfo dan kementerian/lembaga lain.

“Kunjungan kami ingin melihat praktik langsung di lapangan, bagaimana mekanisme pemblokiran konten, melihat isu publik dan memberikan label,” lanjutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini