Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Benarkah Manusia Tidak Bisa Bersin saat Tidur?

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 17 Maret 2020 16:20 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 17 56 2184748 benarkah-manusia-tidak-bisa-bersin-saat-tidur-MzwOsZcDY5.jpg Ilustrasi (Foto: Capital Wired)

JAKARTA - Para peneliti dan ahli syaraf menyebutkan bahwa manusia pada dasarnya tidak mungkin bersin saat tidur. Memang, belum ada penelitian yang menjelaskan bahwa manusia bersin ketika tidur.

Dilansir dari laman Popular Science ahli fisiologi dan peneliti tidur telah berusaha menjelaskan fenomena tersebut berdasarkan pemahaman mereka, terkait bagaimana otak dan tubuh yang bekerja saat tidur.

“Sejauh yang saya tahu, saya tidak berpikir orang bersin saat tidur,” kata periset tidur yang juga Direktur Oregon Institute of Occupational Health Sciences di Oregon Health and Science University, Steven Shea.

"Saya telah mempelajari ratusan orang yang tidur, dan saya tidak pernah menyaksikan ada yang bersin saat tidur. Tapi, saya juga tidak pernah memprovokasi mereka,” imbuh dia.

Shea mengingat, sebuah cerita yang menunjukkan bahwa hipotesis ini mungkin benar. Ia pernah melihat seorang anak laki-laki yang dilanda batuk kronis.

“Dia batuk mungkin setiap 10 sampai 15 detik saat ia bangun,” kata Shea. Namun orangtua anak itu mengatakan kepadanya bahwa anak itu akan berhenti begitu ia tertidur."

Shea memiliki beberapa dugaan mengapa anak itu berhenti batuk dan mengapa manusia tidak bersin saat tertidur. Manusia mengalami dua tipe tidur yang berbeda sepanjang malam, yakni REM dan non-REM. Rapid Eye Movement atau REM merupakan tidur yang memakan waktu sekira 20 sampai 25% malam.

Selama masa ini, manusia membayangkan dengan jelas, mata berkedip-kedip liar di bawah kelopak mata, dan gelombang otak terlihat serupa dengan saat terbangun.

Sebaliknya, tidur non-REM menghasilkan tidur yang nyenyak dan damai. Dua jenis tidur ini mungkin memiliki cara yang berbeda untuk menjauhkan manusia dari bersin saat terlelap.

Tidur non-REM, dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menembus ke alam bawah sadar manusia. Dijelaskan Shea, dalam tidur non-REM masih banyak penyaringan yang terjadi. Misalnya menyentuh tangan dengan ringan tak akan terasa saat manusia tertidur seperti saat sadar.

Selama tidur gelombang lambat - jenis tidur non-REM, talamus dan korteks serebral (stasiun relay otak dan bagian terlampir) saling mengaktifkan untuk menjaga keadaan tetap tenang di otak manusia.

"Talamus dan korteks serebral ada dalam gerakan ini, di mana mereka saling mengendalikan, dan ini semacam menghalangi masukan sensorik,” kata Shea.

Namun Shea menunjukkan bahwa hubungan itu tak lagi menghambat semuanya, namun hanya membuat sulit untuk rangsangan melaluinya. “Tapi kenikmatan tidur adalah bahwa hal itu hampir segera reversibel bila ada situasi yang berbahaya," kata Shea.

Jika ada rangsangan yang cukup kuat seperti bau asap, bisa membangunkan manusia. Shea menganggap bahwa jika manusia bersin di tengah malam, itu akan terjadi karena beberapa stimulus eksternal yang biasanya menyebabkan bersin, namun akan membangunkan manusia terlebih dahulu, dan kemudian bersin.

"Bersin adalah aktivitas otot terkoordinasi yang besar, tapi karena penguncian REM yang diinduksi, beberapa otot itu setengah lumpuh dan kemampuan bersin hampir tidak mungkin terjadi,” kata Shea.

(amr)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini